17jgrabag.jpg
Gapura Desa Grabagan, Kecamatan Kradenan, Grobogan.(ayosemarang.com/Arie Widiarto)

PURWODADI, AYOSEMARANG.COM-- Penamaan suatu tempat, desa, atau wilayah tak pernah lepas dari sejarah yang terjadi di sana. Tak terkecuali asal-usul penamaan Desa Grabagan, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan.

Alkisah, pada zaman dahulu ada kawanan pencuri yang nekat masuk desa di waktu siang hari. Gerak-gerik para pencuri itu kemudian diketahui oleh warga desa setempat.

Warga akhirnya berhasil menangkap pencuri itu dengan beramai-ramai. Para pencuri itu kemudian diikat dan terpaksa dibunuh oleh warga. Jasadnya kemudian dimakamkan di tempat itu juga.

"Oleh warga tanah dibunuhnya pencuri tersebut kemudian dianggap keramat. Lalu, warga menanaminya dengan tanaman pohon Gandri dan kemudian tumbuh menjadi besar dan tinggi," kata Kepala Desa Grabagan, Eko Setyawan, baru-baru ini.

Suatu saat, pohon gandri tersebut mendadak terbakar di bagian atasnya. Karena pohon tersebut masih basah, api yang membakar ranting dan dedaunan menimbulkan suara “grabag-grabag”. Api hanya membakar bagian atasnya saja, sementara bawahnya tidak terbakar.

AYO BACA :Ribuan Santri Bersalawat dan Kirim Doa untuk Palu

Setelah api sudah padam, warga kemudian menebang pohon tersebut. Kayu dari pohon tersebut kemudian dimanfaatkan menjadi blabag atau papan. Dari kata grabag-grabag dan blabag, maka muncul kata Grabagan.

"Dulu, wilayah ini belum memiliki nama dan di bawah kekuasaan Kerajaan Kraton Surakarta. Setelah kejadian itu, warga setempat akhirnya menyepakati, desa tempatnya hidup dinamakan Grabagan. Nama tersebut kemudian dikenal hingga saat ini," ujarnya.

Sejarah Desa Grabagan sendiri, lanjutnya masih berkaitan dengan legenda Aji Saka dan Joko Linglung. Di desa tersebut terdapat Bledug Cangkring.

Konon, saat Joko Linglung menampakan diri di Kuwu Kradenan, badannya ikut menyembul di Desa Grabagan. Akibatnya, di desa tersebut muncul kubangan bledug seperti di Bledug Kuwu.

"Tapi lumpur yang keluar tak sebanyak di Bledug Kuwu. Menurut cerita, munculnya bledug itu berbarengan dengan yang di Kuwu. Kalau di sana kepalanya, yang di Grabagan itu badannya," ujar Eko.

AYO BACA :Kapel RS St Elisabeth, Cagar Budaya yang Terawat dan Teduh