festival_jerami_banjarejo_2018_(800_x_533).jpg
Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik bersama Bupati Grobogan Sri Sumarni dan Forkompinda foto di salah satu spot area acara Festival Jerami Banjarejo 2018, Rabu (17/10/2018). (Arie Widiarto/Ayosemarang.com)

PURWODADI, AYOSEMARANG.COM -- Untuk kali pertama Festival Jerami digelar di Kabupaten Grobogan tepatnya di Desa Wisata Banjarejo. Festival tersebut baru dibuka Rabu (17/10/2018) dan berakhir pada 28 Oktober mendatang.

Di lapangan Desa Banjarejo yang menjadi lokasi Festival Jerami Banjarejo 2018 sudah dibanjiri warga sejak pagi hari sebelum acara secara resmi dibuka pada siang hari oleh Bupati Grobogan Sri Sumarni. Warga wira-wiri mencari spot untuk berswafoto dengan patung jerami.

Di sana terdapat 59 patung yang dibuat menggunakan jerami. Jumlah tersebut diantaranya, 24 patung binatang dan 35 patung dengan bentuk lainnya, yakni rumah-rumahan, sepeda, motor, dan orang-orangan sawah.

Setelah dibuka Bupati sekitar pukul 14.00, jumlah pengunjung langsung meningkat. Tak hanya anak-anak dan orang tua. Para remaja juga turut datang melihat kemeriahan kegiatan yang pertama kali terjadi di Kabupaten Grobogan itu.

AYO BACA :1000 Ekor Sapi di Purwodadi Akan Diasuransikan

Ketua Panitia Acara, Ahmad Taufik mengatakan kurang lebih 10 ton jerami digunakan untuk pembuatan patung-patung tersebut. Patung itu dari pemuda-pemuda di tujuh dusun, Desa Banjarejo, Desa Sengonwetan, Banjardowo Kecamatan Kradenan, Desa Tuko Kecamatan Pulokulon, Desa Tunggulrejo Kecamatan Gabus, Dinas Pendidikan dan satu perwakilan dari Kota Salatiga.

"Kegiatan ini, dalam rangka hari jadi Desa Wisata Banjarejo yang kedua. Festival jerami ini kami selenggarakan lantaran, 99 persen penduduk Desa Banjarejo merupakan petani. Jadi setelah masa tanam pertama banyak jerami yang akhirnya hanya menjadi abu karena dibakar,” kata pria yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Banjarejo, di sela-sela acara.

Ia menyatakan melalui Festival Jerami Banjarejo 2018 jerami-jerami tersebut dapat dimanfaatkan. Setelah para petani tak lagi membakar jerami tersebut, dia berharap kedepan dapat menyelenggarakan Festival Jerami dengan skala yang lebih besar.

Festival ini juga memperkuat posisi Desa Banjarejo sebagai desa wisata. Terlebih desa ini memiliki potensi wisata sejarah. Selama ini, banyak temuan-temuan dengan klasifikasi tiga lapisan sejarah, yakni zaman prasejarah, peradaban hindu-buda dengan situs Kerajaan Medang Kamulan dan Ajisaka, kemudian zaman Belanda.

AYO BACA :Desa Grabagan, Bermula dari Pencuri dan Pohon Gandri

"Kedepan kami berharap Banjarejo menjadi Desa Wisata yang andal. Sebab, dari 6 Juni 2018 hingga sekarang Desa Wisata Banjarejo sudah dikunjungi sebanyak 60 ribu orang dengan penghasilan Rp300 juta untuk pengembangan desa wisata. Kedepan, kami menargetkan meningkat menjadi Rp700 juta,” katanya.

Bupati Grobogan Sri Sumarni berharap kedepan Desa Wisata Banjarejo terus berkembang. Di samping itu, dia berharap desa lain ikut mencontoh apa yang dilakukan Desa Banjarejo.

"Kalau ada 10 desa seperti ini, pasti luar biasa. Kami menyadari APBD Kabupaten sangat terbatas. Dengan ada inisiatif seperti ini, saya rasa bisa membantu pembangunan di desa lewat pendapatan dalam APBDesnya. Saya yakin, kedepan Desa Banjarejo bisa mendapat Rp 1 miliar dari pendapatan Desa Wisata ini,” jelasnya.

Melihat respons positif dari masyarakat, dia berharap dinas terkait dapat duduk bersama untuk meningkatkan potensi wisata di desa lain. Dia juga akan terus mengenalkan potensi-potensi wisata di Grobogan tiapkali berkunjung di daerah lain.

"Ini Pekerjaan Rumah (PR) bersama untuk meningkatkan potensi wisata di Grobogan. Kepala desa harus punya inisiatif dan terus memotivasi masyarakat desa untuk menggali dan menganggat potensi yang ada,” ujarnya.

AYO BACA :97 Guru di Grobogan Siap Terbitkan Buku