24jnasehat.jpg
Takmir Masjid dan Juru Kunci Makam Ki Ageng Selo, Abdul Rohim menunjukan nasehat Ki Ageng Selo yang dipasang di bangunan tempat wudu sebelah kiri masjid.(Ayosemarang.com/Arie Widiarto)

PURWODADI, AYOSEMARANG.COM--Masjid Jami Ki Ageng Selo, Desa Selo, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan memiliki ciri khas tersendiri. Di tempat ibadah ini dipasang tujuh nasehat atau pepali yang wajib diingat oleh santri-santri pondok pesantren di sekitar kompleks masjid dan makam Ki Ageng Selo serta masyarakat Kabupaten Grobogan. Nasehat tersebut dipercayai menjadi tuntunan hidup untuk bermasyarakat dan tak pernah diingkari.

Isi nasehat itu ialah jangan angkuh, jangan bengis dan jahil, jangan serakah, jangan panjang tangan, jangan mengejar pujian, jangan kasar karena orang kasar cepat mati, jangan cenderung ke kiri atau melawan aturan. 

"Nasehat itu selalu diingat dan diajarkan turun temurun baik untuk santri maupun warga di sekitar," ungkap takmir masjid dan juru kunci makam Ki Ageng Selo, Abdul Rohim, Sabtu (24/11/2018). 

Masjid ini juga tidak pernah sepi dari jamaah. Masjid yang sudah berusia ratusan tahun itu tahun ini mengadakan kegiatan pengajian kitab Sullamul Munajat dan Tadarus.
Abdul Rohim mengatakan kegiatan tiap tahunnya ada lima kitab yang dikaji secara bergiliran. Pada tahun ini, giliran kitab Sullamul Munajat yang diulas dan dimaknai bersama. Sementara, pada tahun sebelumnya membahas kitab Hadis Tanqiul Qoul.

"Selain saat Ramadan, pengajian dilakukan pada hari-hari besar Islam dan tiap selapanan (tiap 40 hari sekali) pada malam Jumat Wage, Kliwon, serta malam Senin Pon," imbuhnya.

Di malam hari, tadarusan dimulai usai salat Tarawih. Tadarusan itu diikuti jamaah dari anak-anak, remaja, hingga dewasa. Bahkan mereka yang sudah berusia lanjut tetap semangat mengikutinya.

Rohim menjelaskan kegiatan di masjid yang didirikan Ki Ageng Selo pada abad ke-16 dan dibangun lagi pada abad ke-18. Makam Ki Ageng Selo juga tak pernah putus didatangi peziarah tiap harinya.

Peziarah dari berbagai daerah datang ke makam penurun raja-raja di Jawa itu. Setiap hari beberapa rombongan selalu datang untuk berziarah rata-rata 200 orang. Bahkan di Sabtu dan Minggu, jumlahnya meningkat dua kali lipat.

"Kalau malam Jumat, peziarah bisa sampai tengah malam. Sabtu dan Minggu atau hari libur jumlah peziarah makin banyak, dari pagi hingga sore hari," ujarnya.

Syiar agama di Masjid Jami Ki Ageng Selo tidak sekadar diisi dengan pembahasan kitab, Alquran dan Hadis saja. Ajaran dan nasehat dari Ki Ageng Selo juga disampaikan pada para jamaah masjid yang pernah diluluhlantakan saat masa penjajahan Belanda dulu.