rob-desa-sriwulan-sayung.jpeg
Rob di Desa Sriwulan Sayung, Demak. (Ayosemarang.com/Kemmy Wijaya)

DEMAK, AYOSEMARANG.COM -- Persoalan pasang air laut atau rob memang kerap melanda di pesisir laut utara, salah satunya di pesisir wilayah Kabupaten Demak.

Kepala Pelaksana BPBD Demak, Agus Nugroho LP mengatakan, jika persoalan rob sudah dialami masyarakat di sejumlah wilayah utara Demak sejak 2009. 

AYO BACA :Pesisir Utara Semarang Terendam Rob, Ketinggian Capai 30 Cm

Meski saat itu, rob masih tidak terlalu tinggi dan mengganggu aktifitas masyarakat wilayah tersebut.

"Rob ini kan sudah mulai berdampak pada tahun 2009. Itu sudah mulai kelihatan, tapi memang belum mengganggu aktifitas warga. Rob mulai masuk rumah-rumah warga itu di tahun 2011-2012," ujarnya saat dihubungi Ayosemarang.com, Selasa (2/6/2020).

AYO BACA :Update 2 Mei 2020: Sebanyak 27.549 Orang di Indonesia Positif Terinfeksi Covid-19

Agus menambahkan, jika pada bulan Desember 2011 lalu, kondisi rob di beberapa wilayah mencapai 180 cm. Kondisi itu pun melumpuhkan aktifitas warga di sekitar wilayah terdampak rob.

"Di wilayah Kecamatan Sayung paling parah. Ketinggian antara 20 sampai 110 cm. Itu pernah di 2018 lalu rob sampai 180 cm. Hampir dua meter," terangnya.

Agus menjelaskan, menurutnya, dari penelitian yang dilakukan tim BPBD Demak, Tim dari Undip, dan Tim dari Belanda ada satu cara untuk mengatasi minimal mengurangi tingginya rob di wilayah Sayung tersebut.

"Bisa dibilang satu-satunya cara atau jalan agar rob di Sayung bisa terkurangi itu hanya dengan normalisasi sungai dan perbaikan saluran sungai. Yakni sungai Dombo dan Sungai Babon. Adapun salah satu faktornya, adalah sedimentasi sungai," katanya.

Adapun rob saat ini, ada beberapa desa yang terdampak. Yakni di Kecamatan Sayung, ada 13 desa yang terdampak, dari jumlah total 20 desa. Lalu Kecamatan Karangtengah ada 2 desa yang terdampak, Kecamatan Bonang ada 3 desa, dan Kecamatan Wedung ada 4 desa yang rob.

AYO BACA :Sejumlah Wilayah Demak Dilanda Rob