buruh-demak-doa-bersama.jpg
Buruh di Demak melakukan doa bersama menolak UU Cipta Kerja (istimewa)

DEMAK, AYOSEMARANG.COM -- Alih-laih melakukan orasi, ratusan buruh di Kabupaten Demak justru memutuskan untuk doa bersama agar Undang-undang (UU) Cipta Kerja masih bisa diubah. 

Koordinator buruh Demak, Jangkar Puspito mengatakan, pihak kepolisian tidak memberikan surat tanda terima pemberitahuan (STTP). Untuk itu, buruh di Demak memutuskan untuk doa bersama. 

AYO BACA :Ekonom Unnes Sebut UU Cipta Kerja Lemah Perlindungan Tenaga Pekerja

"Kalau bisa, besok kita akan melakukan doa bersama lagi. Kita akan melakukan koordinasi dengan perusahaan," jelasnya, seperti dilansir Suara.com, Selasa (6/10/2020). 

Meski buruh di Demak melakukan doa bersama, pihaknya tetap akan mengirimkan delegasi untuk melakukan aksi di Jakarta. Ia sudah menyiapkan satu bus dan 50 buruh untuk berangkat ke Jakarta. 

AYO BACA :Xherdan Shaqiri Dinyatakan Positif Covid-19 Usai Thiago dan Mane

"Kita juga sudah menyiapkan buruh untuk ke Jakarta ikut aksi akbar. Mereka akan berangkat besok," imbuhnya. 

Ia menambabkan, Omnibus Law sangat berdampak untuk buruh yang ada di Demak. Hingga saat ini sudah ada sekitar 2.000 buruh yang telah diPHK secara selihak. 

"Kebanyakan karena alasan Covid-19 pengusaha-pengusaha dengan bebas memecat para buruh," imbuhnya. 

Selain itu, banyak buruh dipecat secara sepihak. Selain itu, berdasarkan laporan yang ia peroleh banyak buruh yang diPHK tanpa pesangon. Tentunya, kasus tersebut sangat mengganggu buruh yang ada di Demak. 

"Kalau ada Omnibu Law sangat bahaya lagi  karena pesangon bagi karyawan yang semula dari 32 bulan turun menjadi 25 bulan, itu pun dibagi, 19 bulan dari perusahaan dan 6 bulannya dari BPJS. Kemudian tenaga kontrak itu sangat jelas mengkhawatirkan. Masa depan kita tidak jelas,"imbuhnya.

AYO BACA :Ganjar Minta Buruh Kedepankan Komunikasi, Tak Usah Demo