Ilustrasi, belajar online di rumah (istimewa)

AYOSEMARANG.COM -- Sebagai mahasiswa, penulis dipusingkan karena pembelajaran hari ini berbasis dalam jaringan (daring). Selain tugas yang menumpuk, banyak kendala dihadapi di lapangan. Materi yang tidak maksimal didapatkan, namun dituntut dengan pekerjaan tugas yang bejibun. Dengan semangat belajar daring namun pada akhirnya tetap “pusing”. 

Begitulah pembelajaran sekolah ataupun kampus saat ini, pembelajaran daring  akrabnya mereka sapa. Pembelajaran yang dirasa kurang sangat bersahabat karena harus dilakukan karena kedatangan tamu yang tidak diundang, yakni “si mbak rona” atau “si copit ninteen” panggilan kesayangan mereka. 

Pembelajaran  berdasarkan SE Mendikbud nomor 4 tahun 2020 yang diperkuat dengan SE Sesjen nomor 15 tahun 2020 tentang Pedoman Pelaksanaan BDR selama darurat Covid19 yang berisi tentang tindak lanjut pelaksanan pembelajaran dan  pelaksanaan daring yang bertujuan untuk melindungi semua lapis masyarakat, peserta didik khususnya dari bahaya dampak Covid 19 serta pemenuhan hak peserta didik memperoleh layanan pendidikan.

Selama pandemi Covid 19 ini, peserta didik memang dituntut untuk Belajar Dari Rumah (BDR), dan pengajar memberikan pembelajaran dengan daring. Pembelajaran daring ini dilakukan dengan penggunaan aplikasi pada media sosial pada gadget masing-masing ataupun kotak yang disebut dengan PC ataupun laptop. 

Hal ini dikarenakan, untuk memutus rangkaian penularan Covid 19 yang dapat menyebar dengan cepat hanya dengan interaksi sentuhan. Seperti yang telah disampaikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), Covid 19 ini dapat menular hanya dengan kita berbicara atau hanya sekedar mengobrol dengan orang yang terinveksi virusnya, atau bahkan hanya dengan memegang bekas benda yang baru saja dipegang oleh penderita Covid 19 (Detik.com, 06/08/2020). 

Tentu hal ini menimbulkan banyak pro dan kontra di masyarakat, ada yang berpendapat ini pembodohan, permainan politik, hanya isu yang dibuat-buat dan pemberitaan lainnya yang memang menyudutkan untuk tidak diadakkannya sekolah secara konvensional. Namun, pada akhirnya memang ini menjadi jalan yang terbaik, menyangkut benar atau tidaknya hal tersebut, sebagai masyarakat sudah wajibnya kita waspada.

Seiring berjalannya waktu dengan perkembangan tentang Covid 19 yang sudah diketahui penyebabnya, dengan berbagai macam penanganan sebagai usaha preventif, masyarakat harus mulai dengan gaya hidup baru yang lebih menjaga kebersihan dan pembatasan pada kontak sosial dengan orang lain. Seperti cuci tangan secara rutin dengan ketentuan yakni sebelum kita makan, setelah dari luar rumah atau berpergian, kemudian tidak berjabat tangan dengan orang yang baru saja bertemu, berjaga jarak kurang lebih 1 meter dari orang lain, sampai menggunakan masker saat keluar rumah. Dan secara tiba-tiba semua teman-teman dan relasi menjadi “bakul masker”.

Menjaga Kewarasan

Di situlah pendidikan mengalami pergeseran sistem pendidikan secara drastis, konvensional yang menyenangkan tergantikan oleh daring yang membuat pusing. Materi yang sebelumnya disebutkan belum maksimal dipahami, disusul dengan tugas yang dikerjakan secara random, karena hanya dikerjakan saat mood sedang baik, kemudian semangat belajar yang menjadi kacau karena permasalahan yang terjadi dirasa tidak selesai-selesai karena memang tidak diselesaikan. Setelah merasa sumpek dan masalah sudah menumpuk, dan membuat mereka merasakan apa yang dinamakan dengan pusing. 

Yang paling urgen di sini adalah menjaga kewarasan. Baik itu masyarakat, pelajar, mahasiswa, petugas kesehatan maupun pemerintah itu sendiri. Apakah masalah terselesaikan dengan kita mengeluh dan berkata pusing? Tentu tidak, pemerintah sudah merencanakan serta berusaha menyusun sistem pembelajaran dengan sebaik mungkin agar visi dan misi dari pendidikan tetap dapat tercapai. 

Seiring berjalannya waktu, dengan pasien positif Covid 19 yang sedikit mengalami kabar membahagiakan karena penurunan jumlah, pemerintah memperbolehkan untuk belajar secara luring atau luar jaringan atau yang bisa disebut dengan tatap muka. Namun, pembelajaran secara luring harus dengan intensitas yang tidak sering dan tetap mematuhi protokol kesehatan yang sudah dianjurkan.

Sedikit menolong untuk pengajar dapat menyampaikan ilmu kepada peserta didiknya walau memang belum secara maksimal. Apakah permasalahan hanya sampai disitu, tentu tidak. Kurikulum pendidikan yang mendadak langsung dirubah dengan adanya Kurikulum Darurat yang diterbitkan tanggal 4 Agustus 2020 (Detiknews.com, 10/08/2020), sampai pada terhambatnya fasilitas peserta didik seperti buku dan lainnya menambah deretan masalah saat ini. 

Belum masalah pendidikan selesai, masyarakat malah bersikap acuh terhadap apa yang terjadi, mengadakan hajatan yang membuat kerumunan, berbelanja di pasar atau maal tanpa memperdulikan protokol kesehatan, tetap berkumpul hanya untuk sekedar kongkow dengan teman.

Apakah kita harus diam saja melihat kekacauan bangsa hanya dengan berdiam diri sambil menonton apa yang terjadi sambil  menikmati semua bantuan yang diberikan pemerintah. 

Setidaknya, sebagai masyarakat kita memberikan perlakuan sederhana yang bisa memberi perubahan untuk semuanya. Misalnya, hal kecil yang bisa kita lakukan adalah menghargai pahlawan garda terdepan untuk mentaati peratuan, menjaga protokol kesehatan, belajar dengan aktif dan semangat untuk peserta didik dan mahasiswa untuk memberi manfaat lebih. 

Setidaknya walau kita tidak membantu apapun, namun mengurangi beban bangsa yang semakin kacau karena pandemi Covid 19 yang belum tentu kapan berakhir. Semangat untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari, keep save and healthy.

Penulis: Isni Indriyana / Mahasiswa dan Aktivis Himpunan Mahasiswa Prodi PGMI STAINU Temanggung

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.