Drs Gunawan Witjaksana MSi/Dosen dan Ketua STIKOM Semarang

AYOSEMARANG.COM -- Saya jadi terkesima, tatkala membaca pandangan dari salah satu rekan dosen perempuan di salah satu WA Grup . Pandangan yang bernada protes, namun bagi saya sangat logis dan akhirnya jadilah tulisan ini.

Kita tentu ingat sejak dulu, bila ada tayangan berbau pornografi dan pornoaksi yang tersebar di media, maka yang banyak dibicarakan, bahkan terkesan berbau penyalahan dan pembulian justru perempuannya. 

Ingat saja, sejak heboh tayangan berbau porno, Bandung Lautan Asmara, hingga Ariel Luna- Cut Tari, Vanesa Angel, hingga tayangan mirip Gisel, sisi  yang diblow- up serta diperbincangkan adalah para perempuannya.

Hampir seolah terabaikan justru lelaki hidung belangnya. Meski Ariel akhirnya dihukum dan salah satu anggota DPR pernah dijatuhi sanksi etis, namun tetap saja yang lebih banyak terekspose justru perempuannya, meski sebenarnya mereka mungkin justru korban.

Pertanyaannya, mengapa hal demikian hampir selalu terjadi? Mengapa media ( Seolah) banyak melakukan itu?, Serta bagaimana sebaiknya ke depan?

Selera Pasar

Kalau kita bertanya pada media, jawabannya hampir selalu mengatakan itu sesuai permintaan pasar. Termasuk dari sisi sajian media, perempuan itu dianggap lebih menarik dibanding pria. Maka advertising indosers pun bila kita amati juga didominasi perempuan.

Pertanyaannya, bukankan pandangan dengan dalih pasar tersebut mengandung bias gender? Kalau ini kita diskusikan, tentu media akan menjawab sesuai keinginan pasar. 

Pertanyaan lanjutannya, bukankah  sebenarnya pasar itu bisa diciptakan? Lihat saja misal tayangan Kick Andy, Hitam Putih, dan sejenisnya yang semula ratingnya rendah, sekarang juga menjadi tinggi juga.

Melihat kenyataan tersebut, tidakkah sudah waktunya media mengubah mindset. 

Sehingga, bila ada kasus berbau porno, maka sisi perempuannya agak dikurangi porsinya, dan dialihkan ke sisi lainnya, utamanya pelaku prianya beserta mungkin pengunggahnya, serta penyebarnya.

Membahas perempuannya boleh bila memang dipandang menarik, namun sebaiknya tidak dominan.

Kita tentu faham dampak media ( multiplier of knowledge), utamanya media audio visual yang viewer Emphatik, dan yang lainnya, tentu akan membawa dampak negatif bagi mereka yang terekspose secara tidak proporsional tersebut.

Keseimbangan Porsi

Karena itu, tampaknya sudah waktunya pengelola media perlu berfikir ulang. Keyakinan bahwa pasar juga bisa diciptakan sebaiknya makin dikuatkan.

Bila suatu saat ada kasus yang bernuansa porno, alangkah bijaknya bila media menggali sisi- sisi yang berbau human interest bukan saja dari sisi negatif perempuannya semata, namun juga dari sisi yang lain, termasuk dari sisi pria hidung belangnya, serta mafia pemanfaat konten porno hanya demi keuntungan semata, utamanya tatkala mereka mampu menyiasati kelemahan, baik UU Pers, UU Penyiaran atau pun UU ITE.

Pengelola media perlu berlaku lebih Emphatik, karena kita tahu bahwa penonton sajiannya itu bukan didominasi pria. Penonton wanita pun perlu kita perhatikan  perasaannya  yang lembut sekaligus beremphati  untuk ikut merasakan bila sesama perempuannya yang kemungkinan terkait kasus terus dibicarakan kesalahannya yang belum tentu dilakukannya , disertai dengan bulian- bulian yang berat sebelah, sehingga bisa saja melahirkan opini sesat.

Dalam bahasa jurnalistik, meski kata diduga, disangka, mirip, dan sebagainya sudah dicantumkan, namun audience pada kenyataannya sering mengabaikannya. Akhirnya tentu stigma negatif langsung mereka sandang.

Ke depan, semua pihak utamanya pengelola media perlu banyak berempati, sehingga berbagai sajiannya, meski bagaimana pun faktanya, bisa tersaji secara menarik, namun tidak merugikan pihak tertentu, sekaligus bermanfaat secara maksimal.

Penulis: Drs Gunawan Witjaksana MSi/Dosen dan Ketua STIKOM Semarang

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.