mirama.jpg
Markus Djuli Purwanto saat menunjukkan Kecap Mirama (ayosemarang.com/Vedyana)

SEMARANGTENGAH, AYOSEMARANG.COM -- Bagi warga Semarang pastinya sudah tidak asing lagi mendengar nama "Kecap Mirama". Benar saja, Kecap Mirama adalah produk kecap lokal Semarang yang sudah ada sejak tahun 1930an. Hingga sekarang, Kecap Mirama masih eksis dan terus berproduksi. 

Ayosemarang.com pun berkesempatan mengunjungi tempat produksi Kecap Mirama yang berada di gang Gambiran No 80, Semarang Tengah, Jawa Tengah. Terlihat sejumlah pekerja sedang melakukan aktifitasnya, mulai dari pemilihan bahan baku pilihan pembuatan kecap, meracik rempah hingga pengemasan ke dalam botol.

Pemilik generasi ke-3 Kecap Mirama, Markus Djuli Purwanto, bercerita bagaimana awalnya kecap ini berdiri. Sang nenek, Kwee Siek Giem, membuat kecap bukan untuk dijual, melainkan hanya dikonsumsi sendiri. Mengingat di saat itu, sangat sulit mencari bahan baku untuk diolah dijadikan makanan. Sehingga, membuat sendiri segala bahan baku termasuk bumbu untuk memasak menjadi pilihan.

AYO BACA :Kaya Manfaat, Singkong Bisa Tingkatkan Kekebalan Tubuh

"Karena saat itu sulit sekali buat mencari bahan baku makanan seperti bumbu, makanya nenek kami membuat sendiri kecap. Dan lama kelamaan, singkat cerita, di tahun 40-50an ayah kami punya inisiatif untuk menjualnya. Akhirnya dititipkanlah kecap buatan nenek kami ke toko-toko terdekat gang baru saja," ujarnya kepada ayosemarang.com saat ditemui dikediamannya, Sabtu (23/1/2021).

Markus menambahkan, seiring berjalannya waktu, sejumlah perubahan-perubahan kecil mulai terlihat saat ditangani langsung oleh Jan Liang Siem yang merupakan generasi kedua. Seperti penamaan kecap yang semula belum memiliki nama menjadi Kecap Mirama. Ciri khasnya, terdapat label pada botol kecap Mirama yang menggunakan motif batik, dan lainnya.

"Kenapa namanya Mirama? Saya kurang begitu tahu. Yang saya tahu, karena ada sepupu yang juga usaha kopi di Wotgandul, yakni Rumah Kopi itu mengusulkan untuk memberikan nama Mirama. Lalu untuk gambar batik di kemasan Mirama karena batik itu ikon nusantara," imbuhnya.

AYO BACA :Jumadi Kenalkan Wisata dan Kuliner Andalan Tegal kepada Komunitas Pajero Sport Jambi

Untuk bumbunya sendiri, lanjut Markus, tak ada yang berubah dari pertama kali kecap Mirama dibuat oleh sang nenek. Menurutnya, hal tersebut dilakukan untuk menjaga kualitas rasa Kecap Mirama. Selain menjaga kualitas dari proses pembuatan, pemilihan bahan baku unggulan juga merupakan kunci dari produk Mirama.

"Kalau ditanya bumbu-bumbunya apa, pastinya nggak jauh beda dengan pembuatan kecap yang lain. Kita pakainya kedelai hitam pilihan dan rempah-rempah seperti sereh, laos, gula jawa. Dan kita nggak pakai pengawet, pewarna makanan, dan pengental. Ini kita pertahankan hingga sekarang yang mau menuju generasi ke-4 ini," katanya.

Kecap Mirama, memiliki cita rasa yang khas. Di Semarang sendiri, Kecap Mirama sering dijadikan bumbu sejumlah olahan makanan seperti mi jowo dan nasi goreng. 
"Kecap Mirama memang memiliki cita rasa yang khas untuk dijadikan campuran bumbu olahan makanan," katanya.

Dalam produksinya, Kecap Mirama yang masuk kategori home industri ini dalam sehari bisa memproduksi kurang lebih 800 botol kecap, dengan isi bersih 600 mili liter. Markus sengaja membuat kecap Mirama dalam jumlah flat. Hal tersebut dimaksudkan untuk menjaga cita rasa kecap yang diproduksi. 

"Jadi sebenarnya kita patokannya, hari ini habis berapa, nah kita produksi kekurangannya. Jadi memang kita flat kan untuk produksinya untuk menjaga kualitas Kecap Mirama ini," katanya.

AYO BACA :Nikmatnya Soto Angkring, Rekomendasi Kuliner Khas Semarang