kecap_mirama.jpeg
Kecap Mirama (ayosemarang.com/Vedyana)

SEMARANGTENGAH, AYOSEMARANG.COM -- Menjaga kualitas produksi merupakan salah satu kunci masih eksisnya Kecap legendaris asal Semarang, Mirama. Pengolahan yang tidak berubah dari dulu hingga sekarang dan pemilihan bahan baku unggulan adalah cara menjaga kualitas kecap yang diproduksi di Gang Gambiran No. 80, Semarang Tengah itu.

Penerus Generasi ke-3 Kecap Mirama, Markus Djuli Purwanto mengatakan, sejak dibuat pertama kali oleh Neneknya, Kwee Siek Giem, hingga dirinya yang merupakan generasi ke-3 Kecap Mirama memang tidak terlalu banyak perubahan. Perubahan hanya terdapat pada label nama produk Kecap Mirama.

"Kalau dari generasi ke-2 yaitu ayah saya, Jan Liang Siem, ke saya memang tidak banyak perubahan. Adapun contoh perubahannya, seperti sebelumnya produk kecap dari nenek saya belum ada nama. Nah di generasi kedua inilah baru diberi nama Mirama. Kemudian untuk label tulisan di botol dari dulu sampai sekarang yang seperti itu," ujarnya kepada ayosemarang.com, Sabtu (23/1/2021).

Markus menjelaskan, botol Kecap Mirama memiliki desain yang tidak berubah dari generasi ke-2 hingga ke-3, yakni berupa desain simpel tulisan Kecap Mirama dengan pola batik yang menghiasinya. Menurutnya, desain pola batik di stiker label botol Kecap Mirama bukan tanpa alasan.

"Biasanya kan pola batik identik di barang-barang yang nggak jauh sama batik. Tapi menurut kami pola batik adalah ikon Nusantara," katanya.

Terkait semakin pesatnya perkembangan zaman, Markus melihat adanya tantangan tersendiri bagi penerus Kecap Mirama di generasi ke-4. Tak menutup kemungkinan sejumlah inovasi baru bakal dilakukan untuk terus bisa eksis dan diminati masyarakat luas.

AYO BACA :Mirama, Salah Satu Kecap Legenda di Kota Semarang Sejak 1930an

"Tentunya ini menjadi tantangan tersendiri bagi kami untuk terus meneruskan tali estafet bisnis keluarga ini. Ini yang masih kami persiapkan agar generasi ke-4 ini bisa mengembangkan Kecap Mirama di tahun yang akan datang," imbuhnya.

Adapun beberapa rencana inovasi, lanjut Markus, sudah direncanakan dan disiapkan. Mulai dari penambahan varian produksi hingga adanya pengemasan isi ulang yang dianggap lebih praktis daripada menggunakan botol.

"Kita melihat produk kecap lain memiliki beberapa varian seperti kecap asin, atau manis pedas. Nah itu mungkin di generasi ke-4 bisa saja terjadi. Yang mana  kecap Mirama saat ini masih memiliki satu jenis varian produk," ucapnya.

"Lalu kemasan isi ulang yang menurut kami lebih praktis. Jadi pembeli nggak usah menukarkan botolnya. Botol yang di rumah bisa langsung diisi dengan kecap Mirama dalam kemasan tersebut," tambahnya.

Kondisi tempat produksi pun saat ini juga menjadi perhatiannya. Mengingat adanya aturan Gang Gambiran yang tidakdiperkenankan lagi untuk kawasan home industri membuat Markus harus memindahkan tempat produksinya ke wilayah yang diperbolehkan untuk aktifitas industri walaupun skala rumahan.

"Kawasan ini sebenarnya sekarang diperuntukkan untuk kantor dan jasa. Sehingga kami berencana untuk memindahkan produksi ke Ungaran. Adapun di sini nanti sebagai penjualan dan kantor saja. Kami sudah siapkan tempatnya," tandasnya.