81372-burung-hantu-jaga-sawah.jpg
Puji Arto saat membersihkan burung hantu di penangkarannya [Suara.com/Dafi Yusuf]

DEMAK, AYOSEMARANG.COM -- Petani di Desa Tlogoweru, Guntur Demak memiliki cara unik untuk menjaga sawah dari ancaman hama. Mereka memelihara burung hantu untuk mengusir tikus. 

Warga di desa tersebut rata-rata adalah petani. Mereka menanam padi, jagung, dan kacang. Namun ancaman hama tikus selalu menghantui para petani. Tak jarang hasil panen mereka menurun drastis gara-gara tikus.

Adalah Puji Arto satu di antara warga yang memanfaatkan ribuan burung hantu sebagai media pengusir hama dan tikus.

Burung hantu sebagai predator alami ditangkar lalu dilepaskan ke pesawahan untuk mengusir tikus.

Akhirnya saya memakai burung hantu karena banyak warga yang mengeluh, jelasnya saat ditemui SuaraJawaTengah.id di rumahnya, Minggu (14/2/2021).

Pada awal penangkarannya, Pujo Arto sempat diejek oleh masyarakat sekitar tentang ide pembasmian hama tikus tersebut dengan rumor yang beredar dimasyarakat sekitar.

Awlanya dianggap aneh oleh warga karena ada mitos kalau burung hantu itu pembawa sial, ujarnya.

Namun lambat laun usaha Pujo akhirnya berhasil mengurangi jumlah hama tikus yang berada di area pesawahan Desa Tlogoweru dan meningkatkan hasil panen warga sekitar.

Karena berhasil mengurangi hama dan tikus di  sawah warga, kini caranya banyak dipakai di sawah-sawah warga,

Bahkan, karena dianggap unik banyak warga yang berdatangan ke rumahnya untuk belajar. Bahkan, beberapa pengunjung ada yang sengaja datang dari luar Kota seperti Grobogan, Batang, Jepara, Kendal dan beberapa daerah lain.

Dulu itu yang datang  samppai ratusan kalau pas hari libur untuk melihat burung mauoun konsultasi, ujarnya.

Selain pengunjung yang berlatar belakang petani, dia juga sering didatangi mahasiswa yang ingin belajar cara membasmi hama dan tikus menggunakan media burung hantu di tempatnya.

Banyak yang datang, kalau hari libur biasanya sampai 600 - 1000 orang yang datang. Soalnya bisa buat belajar sambil berwisata, imbuhnya.

Idenya membasmi hama dan tikus  menggunakan burung hanti berawal dari keresahannya karena menipisnya jumlah burung hantu yang ada di Demak. Setelah dia pelajari, burung hantu ternyata bermanfaat untuk pengusir hama dan tikus di sawah  warga.

Awlanya hama dan  tikus itu merajalela, ternyta  karena tak ada predatornya. Nah burung hantu bisa dimanfaatkan untuk itu agar tak musnah, katanya.

Saking banyaknya burung hantu yang ada di rumahnya, akhirnya Puji membuat sebuah penangkaran burung hantu yang diberi nama Tyto Alba. Dia membuat penangkaran tersebut sejak 2011 yang berisi 28 burung hantu.

Namun, sekarang dia  yakini jika jumlah burung hantu yang berasal dari penangkarannya jumlahnya sudah mencapai ribuan. Hal itu disebabkan beberapa burung hantu yang sudah besar memang ditaruh dan dilepas di sawah warga.

Burung hantu yang sudah besar kita buatkan penangkaran di sawah dan kita biarkan hidup di alam terbuka. Jika dihitung dari ssudah sampai ribuan burung hantu sekarang, ucapnya.

Selain memelihara burung hantu,  di tempatnya  itu juga menyediakan  tempat untuk belajar untuk siapa saja yang berniat untuk belajar soal burunng hantu.

Bahkan, pihaknya juga sudah menyiapkan para pembimbing jika memang ada warga yang berniat untuk belajar soal burung hantu.

Bagi yang ingin belajar kita sangat terbuka kepada siapa saja, kita juga sudah menyiapkan mentor untuk membimbing bagi warga yang tertarik, imbuhnya.