pembelajaran-daring.jpg
Ilustrasi pembelajaran daring (Humas Pemkot Bandung)

AYOSEMARANG.COM -- Penyebaran virus covid-19 di indonesia yang saat ini masih belum bisa dikendalikan memberikan dampak yang begitu besar terutama di sektor pendidikan. Pelaksanaan pembelajaran secara jarak jauh (PJJ) setidaknya dalam 10 bulan terakhir justru menimbulkan berbagai macam masalah baru yang semakin kompleks bak tak berakar. Sebut saja masih kurangnya pemerataan fasilitas pendidikan terkhusus di daerah 3T, hingga berbagai macam gangguan dalam penyelenggaraan pembelajaran jarak jauh masih menjadi momok bagi dunia pendidikan di Indonesia. Bahkan baru-baru ini hasil analisis guru berdasarkan assesmen diagnostiknya menyebutkan bahwa sudah mulai muncul indikasi learning lost pada siswa.

Dilansir republika.co.id (21/01/21), Kepala badan penelitian dan pengembangan dan perbukuan  (Kabalitbangbuk) Kemendikbud, Totok Suprayitno dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komis X DPR RI, Kamis (21/1) menyebutkan bahwa tanda-tanda learning lost sudah mulai nampak. Hal ini bersumber pada hasil analisis guru yang dilakukan berdasarkan assesmen diagnostik, hasilnya  menyebutkan bahwa secara akumulasi keseluruhan, presentase pencapaian standar kompetensi siswa dibawah 50 persen. Artinya jikalau mayoritas guru menilai peserta didik tidak mencapai standar kompetensi maka kecenderungan terjadi learning lost sudah mulai nampak.

Problematika Pembelajaran Daring

Praktik penyelenggaraan pembelajaran secara jarak jauh (PJJ) tidak dapat berjalan efektif disebabkan bebagai macam hambatan, contohnya fasilitas penunjang PJJ yang masih minim dan belum merata, keterbatasan akses internet, dan yang paling dominan adalah keluhan siswa terhadap penugasan yang dinilai terlalu berat. Hal selaras disampaikan juga disampaikan oleh pakar kebijakan publik Universitas Gadjah Mada, Agustinus Subarsono, M.Si., M.A., Ph.D., dalam laman ugm.ac.id (4/8/20), yang mengungkapkan berdasarkan riset yang dilakukan terhadap 1304 responden terdiri dari guru, siswa, dan orangtua pada tahun 2020, ditemukan kendala yang sering dialami dalam pelaksanaan PJJ yakni keterbatasan mengakses internet dan juga pembelajaran yang menitik beratkan pada penugasan justru dapat menjadi bumerang. Bagaimana tidak, dengan ekspetasi awal untuk menjadikan siswa “belajar” justru dapat membuat motivasi belajar peserta didik menurun, mirisnya lagi juga berpotensi dapat menimbulkan gangguan pada psikologi dan kesehatan pada siswa.

AYO BACA :Indonesia Tanpa Pemenjaraan, Mungkinkah?

Hal tersebut tentunya menjadi persoalan yang sangat serius sehingga perlu penanganan berlanjut oleh pihak terkait demi keberlangsungan proses pendidikan di masa-masa sulit saat ini. Pemerintah dalam hal ini Kemendikbud bersama pemerintah daerah serta para pakar pendidikan kiranya perlu untuk merumuskan kebijakan yang terbaik untuk diterapkan, bahkan jika memungkinkan pemberlakuan sekolah tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Tentu dalam pelaksanaan pembelajaran secara offline, pemerintah daerah perlu memastikan bahwa sekolah telah memenuhi syarat untuk dapat melaksanakan pembelajaran tatap muka. Mulai dari fasilitas kesehatan dan kebersihan, hingga pemberlakuan peraturan protokol kesehatan yang ketat selama aktivitas pembelajaran berlangsung. Selain itu, sekolah yang juga harus merombak pola penyelenggaraan pendidikan di kelas, contohnya pembagian sesi jam belajar atau shift, merenovasi pola tatanan tempat duduk di lingkungan kelas, membatasi kapasitas ruang kelas, serta meminimalisasi adanya kontak fisik selama kegiatan pembelajaran berlangsung.

Kemunculan Klaster Sekolah

Pelaksanaan sekolah tatap muka secara bertahap sudah dilaksanakan sejak pertengahan hingga kuartal akhir tahun 2020. Tidak semua wilayah dapat mengimplementasikan belajar tatap muka, melainkan hanya daerah-daerah yang dirasa memiliki presentase penularan yang kecil atau berada di zona hijau saja yang dapat dipertimbangkan menyelenggarakan sekolah secaraoffline.Namun pada implementasi ujicoba pelaksanaan sekolah tatap muka, meskipun telah menerapkan berbagai protokol kesehatan serta membatasi mobilitas siswa dalam pelaksaanaan pembelajaran di lingkungan satuan pendidikan, penyebaran virus covid-19 masih terjadi.

AYO BACA :Kualitas Pendidikan Rendah, Hoaks Melimpah

Adanya penyebaran virus covid-19 klaster sekolah justru menjadi pukulan telak bagi pelaksanaan sekolah tatap muka. Dikutip dari detik.com (8/12/20), didapati munculnya penyebaran virus corona klaster sekolah di Kudus yang menyebabkan 19 tenaga pendidik terkonfirmasi positif covid-19 dengan 5 diantaranya dinyatakan meninggal dunia. Mirisnya lagi, 1 orang yang meninggal sedang dalam kondisi hamil. Hal ini menunjukkan bahwa masih terlalu riskan untuk menerapkan kebijakan sekolah tatap muka disaat penyebaran virus masih belum bisa dikendalikan.

Upaya preventif menurunkan presentase learning lost

Tidak bisa dipungkiri bahwa efektivitas penyelenggaraan pembelajaran secara onlinejauh dibawah jika dibandingkan dengan pembelajaran secara tatap muka konvensional. Namun, jika melirik kondisi dan situasi yang masih sangat beresiko untuk dapat melakukan sekolah offline maka salah satu alternatif yang dapat diaplikasikan demi keberlangsungnya proses pembelajaran yakni memaksimalkan potensi pembelajaran secara daring. Beragam inovasi dalam penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) perlu ditekankan dan dimaksimalkan penyelenggaraannya. Hal ini diharapkan dapat menurunkan presentase siswa mengalami learning lost. Salah satu contoh inovasi yang perlu dipertimbangkan dalam melakukan pembelajaran onlineyakni memaksimalkan potensi yang ada dengan memanfaatkan media pembelajaran.

Pemanfaatan beragam media pembelajaran dinilai dapat meningkatkan motivasi belajar dan keterlibatan aktif siswa selama melakukan aktivitas pembelajaran walaupun dalam kondisi yang sulit seperti saat ini. Lebih jauh, diharapkan dengan penggunaan media pembelajaran dalam berlangsungnya aktivitas belajar mengajar secara daring, presentase kemungkinan siswa mengalami learning lost dapat diminimalisasi.

Penulis: Dito Ferdiansyahmahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang (UNNES)

AYO BACA :Mahasiswa KKN UIN Walisongo Ikut Salurkan Bantuan Sembako di Probolinggo

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.