31csuryanto.jpeg
Suryanto, Staf Pengajar Komunikasi Politik pada Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.


\nPeristiwa ledakan bom di depan Gereja Katedral Makassar, Minggu (28/3/2021), membuat gempar masyarakat di Indonesia. Kabar kejadian ini menyebar dengan cepat melalui media dan media sosial, sehingga berbagai kalangan masyarakat mengecamnya.  


\nDari penyelidikan Polisi berhasil mengungkap terduga pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, adalah  pasangan suami istri L (26) dan YSF. Menurut Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono, pasangan suami istri tersebut baru menikah sekitar 6 bulan yang lalu.  


\nMenurut dugaan sementara, bahwa L sebagai terduga pelaku serangan bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar punya kaitan dengan orang-orang yang melakukan serangan di Jolo, Filipina selatan yang berafiliasi dengan Jamaah Ansharut Daulah (JAD). 


\nTeror bom ini menambah panjang peristiwa yang terjadi di Indonesia beberapa tahun belakangan. Jika merujuk data yang dirilis Public Virtue Research Institute, dalam dua dekade terakhir, ada sembilan kasus ledakan bom yang terjadi sejak 2000.

Rinciannya, yakni Bom Bali I (2002), Bom JW Marriot (2003), Bom Bali II (2005), Bom Ritz Carlton (2009), Bom Masjid Az-Dzikra Cirebon (2011), Bom Sarinah (2016), Bom Mapolresta Solo (2016), Bom Kampung Melayu (2017), serta Bom Surabaya dan Sidoarjo (2018).

         Kita masih ingat juga peristiwa  penusukan terhadap Wiranto (2019) yang juga dilakukan oleh kelonpok JAD. Pesan yang ingin disampaikan kelompok JAD kepada para pengikut setia dan simpatisan, para musuh, dan masyarakat dunia secara keseluruhan, baik yang ada dalam wilayah ISIS (di Irak dan Suriah) maupun di luar wilayah ISIS.  

Pesan paling penting yang ingin disampaikan dari peristiwa tersebut  antara lain, selalu siap mengorbankan apa saja demi tujuan yang dianggap suci. Mereka meminta para pengikut untuk tidak mengendurkan sedikit pun kesiapan untuk berjihad dan berkorban.

Kelompok ini hendak menyampaikan pesan bahwa mereka masih mampu membuat aksi-aksi mengerikan dan menebar teror kepada siapa pun yang tidak mau tunduk kepada kemauan mereka. Tujuan dari aksi teror ialah menebarkan ketakutan kepada berbagai pihak seluas mungkin. 

Sekelumit Sejarah JAD
\nNama JAD tiba-tiba muncul menyusul pernyataan mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) As'ad Said Ali pada jumpa pers, Maret 2015, yang menyebut sejumlah pendukung ISIS telah mendeklarasikan kelompok baru. Pada bulan November tahun yang sama, simpatisan ISIS di Tanah Air menggelar acara di Kota Batu, Jawa Timur.

Jaringan mereka sangat luas, bahkan sudah sampai ke Filipina untuk pembelian senjata. Anggotanya mencapai ribuan, tersebar di 18 provinsi. 

The Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), lembaga pengamat terorisme Asia Tenggara, menganggap JAD bukanlah organisasi yang rapi dengan kekuatan militer dan sumber donasi dari dalam maupun luar negeri, seperti dikesankan pemberitaan media massa.

Melalui laporan bertajuk Disunity Among Indonesian ISIS Supporters and the Risk of More Violence IPAC menyebutkan tidak ada bukti struktur organisasi dalam JAD. Nama itu hanyalah istilah generik untuk menyebut para pendukung ISIS di Indonesia, ungkap laporan tersebut. 

Istilah Jamaah Anshar Daulah itu 'kan dari bahasa Arab artinya pendukung daulah (negara Islam). Akan tetapi, tidak ada pembentukan tanzhim terstruktur bernama Jamaah Anshar Daulah.  

Media dan pihak kepolisian menggambarkan JAD seakan-akan organisasi struktural dengan pucuk pimpinan dipegang Aman Abdurrahman, biasa dipanggil Aman, yang saat ini sedang menjalani hukuman 9 tahun penjara di Lapas Batu, Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Dia terbukti mengorganisasi kamp paramiliter di Jantho, Aceh.

Meskipun organisasi JAD tidak jelas, rupanya memiliki struktur konvensional, seperti organisasi teroris pada umumnya, atau bisa dibilang kurang rapi, dan hal ini justru yang menjadi keunikan dari organisasi teroris ini yang sampai saat ini bisa bertahan hidup. 

Berbeda dengan Jamaah Islamiah (JI), pemimpin (amir) JAD di daerah bisa leluasa melancarkan serangan teror tanpa harus melapor dan berkoordinasi dengan amir pusat. JAD Jawa Tengah yang dipimpin oleh Fauzan Mubarok diketahui merencanakan menyerang markas polisi di Tuban, Jawa Timur. Di Bima, NTB, anggota JAD pimpinan Abu Salma pada bulan September 2017 melakukan penembakan terhadap seorang anggota polisi yang menyebabkan luka-luka. Semua serangan tersebut terjadi secara independen tanpa diketahui oleh petinggi JAD di pusat.

Meskipun para tokoh kunci JAD sudah banyak yang ditangkap oleh Densus 88, masih banyak yang hingga saat ini masih berkeliaran dan sewaktu-waktu bergerak malancarkan aksinya seperti halnya penyerangan terhadap gereja gereja katedral di Makassar, Sulawesi Selatan, hari Minggu kemarin. 

Sulit Dibongkar
\nSetidaknya ada empat hal yang membuat JAD sulit dibongkar. Pertama, para anggota yang bergabung dalam sel-sel kecil di setiap daerah mungkin tak mengenal satu sama lain sehingga menyulitkan pelacakan bagi aparat kepolisian. Sel-sel tersebut justru berbahaya sebab satu serangan di suatu tempat bisa menginspirasi sel di tempat lain sehingga muncul efek domino.

Kedua, radikalisasi via sosial media dan aplikasi pesan instan membuat siapa pun rentan menjadi pendukung ISIS dan gampang untuk direkrut. Walhasil, jumlah mereka yang berbaiat pada ISIS atau mendukung JAD tidak diketahui dengan pasti.

Pesatnya arus konten radikal juga membuat seseorang bisa menjadi militan dalam hitungan bulan, yang meningkatkan risiko seseorang untuk melakukan serangan aksi seorang diri (lone wolf).

Ketiga, komunikasi dan radikalisasi di penjara. Para napi terorisme di penjara masih bisa leluasa berkoordinasi dengan dunia luar, seperti dalam kasus bom Thamrin. Para napi juga punya kesempatan untuk berkomunikasi dengan sesama napi untuk menggelar ceramah yang memungkinkan perekrutan anggota baru dari dalam penjara.

Keempat, regenerasi untuk mengganti pemimpin yang ditangkap atau tewas dapat dengan mudah dilakukan. Aman Abdurrahman diketahui memiliki ratusan pengikut dan pendukung yang sewaktu-waktu dapat dilantik sebagai pimpinan atau anggota.

Jadi, meski beberapa person atau petinggi JAD sudah ditangkap, bukan berarti ancaman serangan akan hilang begitu saja. Selalu ada regenerasi dalam jaringan terorisme, mengingat JAD adalah kelompok pendukung ISIS terbesar. Akan tetapi, kelompok ini tidak sendirian. Ada banyak kelompok kecil pendukung ISIS, dan kapasitas regenerasi mereka sudah jelas.

Bergerak Sendiri-sendiri
\nHal yang perlu dicermati ada beberapa kelompok organisasi teroris, seperti kelompok Jemaah Islamiyah (JI) yang terkoneksi dengan Suriah, kelompok Negara Islam Indonesia (NII), dan kelompok teroris yang lain di berbagai tempat. Kelompok tersebut mungkin terhubung secara ideologi dengan JAD.  

Selain itu, jika kelompok JI hanya melibatkan pria dewasa dalam setiap aksi yang dilakukan, sementara perempuan, apalagi anak-anak tidak dilibatkan sama sekali. Perempuan yang dinikahi oleh laki-laki JI diplih istri dari sekolah-sekolah JI, tempat anak-anak perempuan ditanamkan dengan nilai-nilai organisasi. 

Kelompok teroris JAD yang berafiliasi dengan ISIS berhasil mengubah konsep jihad menjadi urusan keluarga dengan peran untuk semua orang. Perempuan diibaratkan sebagai singa betina, anak-anak adalah anak singa, dan setiap orang diberi tugas sesuai dengan misinya masing-masing. Doktrin yang dipegeng adalah bahwa “jihad dengan jaminan surga” apa pun resikonya.


\nTernyata, dalam konsep ISIS mengenai fungsi keluarga itu diterima dengan baik oleh beberapa orang Indonesia. Terkadang laki-laki pergi terlebih dahulu dan istri mereka menyusul kemudian dengan bayi dan balita. Tidak sedikit pula, mereka membawa putri remaja mereka dan menikahi mereka dengan warga negara non-Indonesia.

Pola yang berubah ini kemudian memiliki beberapa implikasi yang harus diantisipasi pihak-pihak berwenang. Hal yang paling krusial adalah memikirkan bagaimana upaya deradikalisasi keluarga dilakukan, bukan lagi terpaku pada kepala keluarga saja.

Itu berarti deradikalisasi harus terjadi sebagai sebuah keluarga, tidak hanya ditujukan pada para pria. Program deradikalisasi tidak mungkin hanya ditujukan untuk menanamkan nasionalisme atau mengggeser para ekstremis ke interpretasi lain dari teks-teks Quran. Mereka harus membahas bagaimana keluarga secara keseluruhan.

Selain itu, yang juga penting adalah Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) harus menyusun strategi baru kebijakan kontraradikalisasi dengan melibatkan aparatur daerah. Terlebih selama ini pemerintah daerah cenderung untuk tidak memberikan perhatian yang cukup pada hal ini karena mereka menganggap isu radikal ini adalah urusan pemerintah pusat.
\n*) 

Penulis: Suryanto, Staf Pengajar Komunikasi Politik pada Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM)   Semarang

 

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.