usman_roin.jpg
Usman Roin/Alumnus Magister PAI UIN Walisongo Semarang.

AYOSEMARANG.COM – Menelaah ulasan Prof. Masdar Hilmy (2016:67) dalam buku Pendidikan Islam dan Tradisi Ilmiah, bahwa kemampuan menulis itu menjadi elemen penting lahirnya peneliti profesional. Apa yang disampaikan oleh Prof. Masdar ini sangatlah tepat bagi penulis. Penulis sendiri “yang masih belajar menulis” ingin menyakinkan diri, bahwa menulis itu bisa lahir dari siapa saja. Dari hal sederhana dan dekat dengan keseharian kita. Serta, dari latar belakang akademik apa saja.

Menulis bukan hanya an sich milik alumnus bahasa dan sastra Indonesia. Karena yang utama, bagi yang demen menulis hingga mendapatkan predikat “penulis”, adalah konsistensi dalam mengasah keterampilan menulis. Menulislah dari hal-hal yang sederhana, ditingkatkan kepada hal-hal yang berat-berat, berkelas, berbasis data, hingga akhirnya memiliki nilai (values) untuk peradaban masyarakat.

Namun sekali lagi, fakta menyajikan, tradisi menulis masyarakat kita minim sekali. Jangankan menulis hingga kemudian meneliti, tradisi meng-update diri dengan membaca buku saja nihil terjadi. Data menyajikan, bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih perlu digenjot. UNESCO sebagai misal, menyebut dalam hal literasi, Indonesia menempati urutan kedua dari bawah. Belum lagi, bila menyimak hasil riset Riset Words Most Literate Nations Ranked oleh Centeral Connecticut State University pada Maret 2016, Indonesia masih diperingkat ke-60 dari 61 negara terkait soal minat membaca.

Minimnya minat baca kita seolah diperparah dengan minimnya pustaka keluarga. Sehingga tidak aneh, bahwa “tradisi kekinian” yang marak terjadi, membaca medsos menjadi pemandangan keseharian yang dilakukan tidak hanya oleh generasi tua (old), melainkan juga generasi milenial (now) yang hari ini lekat dengan gadget, bukan pada buku yang dalam adigum disebut sebagai jendelanya ilmu pengetahuan.

Pembaca tentu boleh menyangkal alur berpikir penulis di atas, karena di dalam gadget ada jutaan sumber bacaan. Hanya saja, faktanya yang paling dominan diakses untuk dilihat, dibaca, dan ditanggapi adalah status medos daripada sumber-sumber bacaan yang baik. Bahkan menurut Aqilla Elza Dinasti SM (21/5/21), generasi milenial (now) lebih demen mengabaikan buku dan mesra dengan gadget. Sehingga tidak ayal, ketertarikan mereka terepresentasi oleh kepo-nya mereka terhadap aktivitas dunia maya. Dan apabila diminta untuk membaca, baru satu kalimat yang agak sulit saja, buru-buru bukupun ditutup. Lalu, diangkatlah gadget yang kemudian diusap ke atas dan bawah secara khusuk.

Teladan Penulis

Mungkin sudah saatnya, membaca dan menulis perlu dimunculkan sosok teladan riilnya di sekitar kita. Cerminan teladan membaca hingga menghasilkan karya dapat kita tilik dari para ulama-ulama terdahulu. Salah satunya, puluhan karya tulis pemikir besar Islam yang hidup di abad kelima Hijriyah (450H/1058M) yang menurut Ahmad Zaini dalam Esoterik: Jurnal Akhlak dan Tasawuf (2016:150) mafhum dengan gelar Hujjatul Islam (bukti kebenaran agama Islam), hingga Zain ad-Din (perhiasan agama) yakni, Imam Al-Ghazali. Tentang karya Imam Al-Ghazali mengutip Saeful Anwar (2007:87) mencapai 69 karya buku. Salah satunya, yang kita kaji sampai saat ini adalah Ihya’ Ulum al-Din.

Tentu, bila ulama dahulu yang masih terbatas media menulis, namun kaya akan karya tulis, bagaimana dengan kita? Sementara kita yang berlimpah media menulis, untuk membaca saja apalagi melahirkan tulisan tidak segera terwujud. Pertanyaannya, bagaimana menjadi peneliti sebagaimana yang diharapkan oleh Prof Masdar, bila secara tata tulis bahasa yang dibuat masih amburadul? Kemudian tidak ada niatan untuk belajar menulis. Dan, kalaupun menulis, itu hanya karena tuntutan tugas. Jika demikian, tentu selamanya daya literasi kita tidak akan naik peringkat. Literasi akan jalan ditempat. Penyebabnya, kita un-produktif menghasilkan karya tulis yang tidak dimulai dari tradisi membaca yang baik.

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk membangun literasi secara perseorangan? Pertama, memperbaiki daya baca. Perihal daya baca tentu lingkungan yang paling utama adalah keluarga. Keluarga sebagai lembaga pendidikan informal, perlu memperbaiki daya baca masing-masing dari keluarganya. Bukan hanya menekan anak yang sedang dibangku sekolah atau PT untuk mentatati jadwal belajar mata pelajaran, melainkan keluarga dalam hal ini Bapak, Ibu, Saudara perlu menjadikan diri mereka teladan membaca. Jika demikian, maka jadwal belajar membaca akan menjadi milik bersama, dan bukan hanya milik yang masih belajar. Sehingga masyarakat belajar akan muncul dari keluarga-keluarga kecil yang sadar akan arti belajar dikesehariannya.

Kedua, membuat karya tulis. Karya tulis hakikatnya akan terlahir dari siapa saja yang terbiasa membaca. Keluarga yang rajin membaca secara otomatis tidak hanya akan berpikir bagaimana menghabiskan buku untuk dibaca saja. Akan tetapi, beralih membuat karya tulis hingga kemudian tulisannya bisa dinikmati banyak orang. Terlebih, hari ini media untuk menerbitkan karya tulis kita mudah dan bisa diciptakan sendiri. Mulai dari medsos (facebook, instagram, status whatapp, twitter, dan sebagainya), hingga blog yang tidak berbayar. Apalagi, kini banyak media online menyediakan ruang untuk para penulis pemula untuk mengirimkan hasil tulisannya, yang kemudian setelah tayang bisa dishare ke platform medsos yang kita miliki.

Akhirnya, untuk melahirkan karya tulis, hari ini sangatlah mudah. Bahkan untuk menjadi profesional penulis, hingga peneliti, tentu mulainya dari penulis amatiran. Maka belajar menjadi penulis disertai keistikamahan adalah sarana ampuh menjadi penulis beneran. Jika sudah bertitel “penulis beneran” ia adalah bagian dari agen literasi yang siap melahirkan penulis-penulis masa depan. Salam literasi.

Penulis: Usman Roin/Alumnus Magister PAI UIN Walisongo Semarang, pengurus Pergunu Jateng, dan penulis buku 50 Status Inspiratif (Semarang: YAPAPB Semarang, 2020), Menjadi Guru: Sehimpun Catatan Guru Menulis (Kendal: Pelataran Sastra Kaliwungu, 2019), Langkah Itu Kehidupan (Yogyakarta: Semesta Hikmah, 2013).

 

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.