social-media-1795578_640.jpg
media sosial (pixabay)

AYOSEMARANG.COM -- Era sekarang, orang yang tak memiliki akun media sosial (Facebook dan Instagram misalnya) mungkin dibilang ketinggalan zaman. Tak mengherankan, karena saat ini media sosial menjadi tempat yang nyaman untuk bersosialisasi, bersilaturahmi, menjalin pertemanan dengan orang-orang di berbagai belahan dunia ini, bahkan keberadaan media sosial menjadi tempat yang sangat efektif untuk berbisnis secara online.

Selain itu, media sosial juga menjadi lahan yang menggiurkan bagi para pelaku kejahatan.

Tak pelak, keberadaan media sosial akhirnya seperti dua sisi mata uang. Satu sisi dapat memberikan manfaat yang besar, sementara di sisi yang lain memberikan dampak buruk dan merugikan orang lain.

Karenanya, kita harus berusaha bijak dalam menggunakan media sosial. Jangan sampai tergoda untuk memfungsikannya sebagai sarana kejahatan, misalnya melakukan penipuan. 
\n 
\nMedia Bebas

Media sosial, sebagaimana ditulis Nurudin dalam buku Media Sosial, Agama Baru Masyarakat Milenial (2018) adalah media bebas.

Pemilik akun media sosial bisa berbuat apa saja karena tidak ada sensor. Misalnya, mereka bisa mengumpat apa saja, ngomong apa saja, menyebar tautan apa pun, mengomentari status atau tautan dengan cara apa pun.

Di Twitter, mereka juga bisa menulis beragam kalimat dan mengirimkan foto serta me-retweet apa saja yang ia suka. Intinya, apa saja bisa dilakukan tanpa melihat apakah yang dikirimkannya itu benar sesuai fakta atau tidak.

Karena media sosial adalah media yang bersifat bebas, maka yang menjadi pemegang kendalinya adalah kita. Dengan kata lain, baik buruknya media sosial tersebut sangat tergantung kepada siapa yang menggunakannya.

Di sinilah kita dituntut memiliki kecerdasan dalam bermedia sosial. Jangan mudah percaya dengan apa-apa yang ditampilkan di media sosial. Jangan mudah tergoda untuk menge-share atau menyebarkan berita-berita di media online yang belum terbukti kebenarannya. 
\n 
\nRentan Konflik 

Disadari atau tidak, keberadaan media sosial saat ini juga menjadi tempat yang rentan konflik. Orang bisa terputus pertemanan atau persaudaraan hanya gara-gara salah paham dalam mengomentari postingan seseorang.

Orang bisa saja bertengkar di media sosial hanya gara-gara berbeda pemahaman tentang sesuatu hal. Misalnya, beda pandangan dalam masalah politik, persoalaan hukum agama, dan lain sebagainya.

Maka, sekali lagi, diperlukan kecerdasan dalam bermedia sosial. Tahan jari jemari kita sebelum mengomentari status atau postingan orang lain. Jangan sampai komentar yang kita tulis menyebabkan orang lain merasa sedih dan sakit hati.

Seyogianya kita harus berusaha menjalin hubungan yang baik dengan orang-orang yang berbeda pandangan dengan kita. Jangan sampai ketidakmampuan kita mengontrol jari, menyebabkan kita terlibat konflik dengan banyak orang. 

Dalam ajaran Islam, kita dianjurkan untuk diam jika belum sanggup berkata-kata yang baik. Hal ini tentu dapat dikaitkan ketika kita sedang menggunakan media sosial; lebih baik diam; tidak usah menulis komentar jika komentar tersebut malah menyebabkan orang menjadi marah dan terpicu emosi. Tulislah komentar yang baik-baik. Seandainya kita ingin memberikan suatu kritikan atau masukan, tulislah dengan bahasa yang halus, sopan, dan tidak membuat orang yang membacanya menjadi tersinggung. Hindari kebiasaan mempermalukan orang lain di depan umum, misalnya menulis komentar yang menjatuhkan harga diri atau martabat orang lain.  

Mudah-mudahan tulisan sederhana dan singkat ini dapat menjadi sebuah renungan bersama, agar ke depan berusaha menggunakan media sosial dengan bijaksana. Wallahu a’lam bish-shawaab.

Penulis: Sam Edy Yuswanto yang gemar menulis untuk media-media di Indonesia

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.