stres-dalam-biopsikologi-dan-islam.jpg
Ilustrasi, perempuan mengalami stres (pexels)

AYOSEMARANG.COM -- Stres merupakan salah satu gangguan yang umum dialami. Setiap orang pasti pernah mengalami stres termasuk mahasiswa, hanya berbeda pada tingkat dan dampaknya. Gejala stres yang muncul tergantung pada penyebab dan cara kita secara individu dalam menyikapinya. Jadi, sebenarnya apa itu stres? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), stres merupakan gangguan atau kekacauan mental dan emosional yang disebabkan oleh faktor luar.

Dapat dikatakan, stres merupakan bentuk reaksi yang muncul ketika seseorang menghadapi faktor luar berupa, ancaman, tekanan, atau perubahan. Stres adalah gangguan yang wajar dan sering dialami. Stres berakhir ketika hal-hal atau kondisi yang mengancam, menekan, atau menuntut perubahan sudah tidak lagi dirasakan.

Bagaimana jika stres berlangsung lama dan sulit dikendalikan?  Maka individu yang bersangkutan akan mengalami stres kronik. Pada kondisi ini, terjadi perubahan pada sistem saraf. Sistem saraf merupakan bagian yang berperan sangat penting dalam mengatur seluruh aktivitas kerja tubuh manusia dari sensasi atau proses penginderaan, persepsi atau penafsiran informasi dari sistem indera yang menimbulkan gambaran akan suatu hal, pikiran, dan tingkah laku.

Dibagi menjadi 2 yaitu, sistem saraf pusat dan tepi (perifer). Sistem saraf pusat meliputi otak dan sumsum tulang belakang, sedangkan tepi meliputi seluruh saraf yang bercabang dari otak dan sumsum tulang belakang ke seluruh bagian tubuh manusia. Perubahan yang terjadi ketika stres yaitu pada peningkatan tekanan darah, pengurangan produksi ludah, serta penghentian kerja lambung dan paru-paru.

Selain terjadi perubahan pada sistem saraf, terjadi juga perubahan pada sistem otak terutama pada bagian hipotalamus. Sebagai informasi, jika dilihat melalui anatomi otak, secara umum otak dibagi menjadi 4 bagian yaitu, sumsum tulang belakang (spinal cord), batang otak (brainstem), otak kecil (cerebellum), dan otak besar (cerebrum). Terdapat juga sistem limbik yang terkait mengenai emosi yang terletak di bagian terdalam tengah otak dan dibawah otak besar.

Pada sistem itu terdapat beberapa bagian yang salah satunya adalah hipotalamus. Hipotalamus bertanggung jawab dalam mengatur beberapa aktivitas seperti makan, minum, suhu tubuh, dan kontrol emosi. Ketika kita mengalami kondisi stres kronik, hipotalamus akan mengaktifkan dan menghasilkan hormon kortisol atau stres. Hormon ini akan meningkatkan gula darah, denyut jantung, dan menurunkan asam lemak dalam darah.

Dari berbagai hasil yang diakibatkan karena perubahan pada sistem saraf dan otak, kita dapat melihat secara fisik dan merasakan gejalanya. Misal, meningkatnya tekanan darah akan menyebabkan hipertensi, tetapi dengan gejala yang baru muncul ketika hipertensi sudah berada pada level yang parah dan berbahaya seperti, mual, sakit kepala, telinga berdenging, dan nyeri dada. Kemudian, pengurangan produksi ludah dapat menghasilkan gejala mulut kering atau peningkatkan denyut jantung dengan gejala fisik jantung berdebar.
Stres dapat juga terjadi tergantung pada bagaimana cara kita mempersepsikan suatu masalah atau penyebab.

Secara psikologi, persepsi adalah proses penggunaan pengetahuan (knowledge) yang ada dalam menginterpretasikan stimulus/informasi dari indera. Dapat juga berarti pemberian makna atau interpretasi sensasi. Mudahnya, persepsi merupakan hasil kerja otak dalam memahami atau menilai suatu hal yang terjadi disekitar. Setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda tergantung pada pengetahuan, pengalaman, dan sudut pandangnya. Dalam stres, terjadi kecenderungan mempersepsikan suatu masalah atau penyebab sebagai sebuah ancaman. Masalah atau penyebab ini diartikan dalam sudut pandang yang negatif.

Contoh perbedaan persepsi pada kalangan mahasiswa yaitu pada pemberian tugas presentasi. Dalam memandang tugas ini, mahasiswa terbagi menjadi 2, ada yang memandangnya sebagai sebuah tantangan dan peluang untuk memperoleh pengetahuan, ketrampilan, dan pengalaman, sedangkan yang lain memandangnya sebagai sebuah ancaman atau beban. Bagi yang memandangnya sebagai sebuah peluang, menunjukkan bagaimana dia mempersepsikan itu dalam sudut pandang yang positif, sehingga bagi mereka bukan sesuatu yang menekan atau membebani.

Namun, bagi yang memandangnya sebagai sebuah ancaman dan beban, menunjukkan bagaimana mereka mempersepsikan itu dalam sudut pandang yang lebih negatif. Maka selama proses, mereka akan selalu memikirkan tugas itu berulang-ulang, dengan persepsi negatif, dan dalam waktu lama, sehingga menjadi menumpuk dan membebani diri, hati, dan pikirannya yang jika tidak dapat diatasi maka akan menjadi stres.

Dalam perspektif islam, stres merupakan suatu bentuk cobaan. Sedangkan dalam surat al-Baqarah ayat 10 yang berbunyi “dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” disebutkan bahwa, stres merupakan suatu bentuk penyakit hati yang meliputi dengki, iri hati, dan dendam.

Penyakit hati inilah yang menjadikan seseorang selalu merasa terancam dan gelisah oleh sesuatu yang sebenarnya dapat dihindari dan dihadapi oleh individu tersebut. Penyebab stres dapat berasal dari mana saja. Mengapa stres dapat terjadi dan bagaimana mengatasinya?

1.    Niat ikhlas
Stres dapat muncul ketika apa yang telah dan sedang kita usahakan gagal, sedangkan kita tidak dapat menerimanya. Niat ikhlas semata-mata hanya untuk Allah menjadi penting agar segala bentuk usaha kita, baik yang akan berhasil maupun tidak bukanlah menjadi suatu masalah.

2.    Bersyukur dan berserah diri
Stres juga dapat muncul ketika kita tidak dapat menerima segala pemberian-Nya, merasa selalu kurang atau tidak puas. Juga kecenderungan memandang penyebab stres sebagai sebuah ancaman (berpikir negatif). Bersyukur dan berserah diri dalam menerima pemberian Allah menghindari diri dari sifat serakah dan beban pikiran.

3.    Sabar dan salat
Perasaan dan pemikiran bahwa semua cobaan yang dialami tidak akan berhenti dan lama terjadi akan membebani individu itu. Belum lagi perasaan sendiri dan jauh terutama dari Tuhan menambah rasa kesepian dan kegelisahan hati dan pikirannya. Alangkah baiknya, kita selalu berpikiran positif bahwa akan ada masanya segala masalah dan cobaan itu akan berakhir. Dan bahwa kita masih memiliki Allah, serta keyakinan bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan selain sesuai dengan kemampuan hamba-Nya dapat diperoleh melalui sabar dan salat. Terutamanya salat, semakin khusuk maka semakin dekat juga diri kita dengan Allah yang dimana membawa ketenangan.

4.    Doa dan dzikir
Ketika permasalahan yang mengancam kita tumpuk, simpan, dan pendam sendiri, maka secara otomatis beban hati/pikiran juga akan bertambah. Doa dapat diibaratkan seperti curhat atau membagikan permasalahan (uneg-uneg) kepada orang lain, entah untuk mengurangi beban hati karena lama menyimpannya sendiri atau karena ingin memperoleh sebuah solusi. Di dalam doa, kita menumpahkan segala keluh kesah. Selain karena tujuan ibadah, dapat juga sebagai bentuk/media curhat.
Jika keempat hal di atas dapat diamalkan, ketenangan hati dan pikiran serta kurang dan terhindarnya kecemasan pasti akan didapat sebagai sebuah kekuatan dalam menghadapai segala permasalahan dan tentunya menghindari potensi stres kronik.

Dari sini kita jadi mengetahui bahwa, stres dapat dilihat secara biopsikologi mengenai apa yang terjadi pada bagian organ kita seperti, otak dan sistem saraf serta secara psikologis bagaimana cara kita melihat/mempersepsikan stres dan penyebabnya. Dan dapat dihubungkan juga ke dalam persepsi islam, tentang apa saja langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi dan menghindari stres yang diantaranya melalui 4 hal tadi.

Penulis: Mexita Beladin Kaffah/Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang

 

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.