ketersediaan-kedelai-kendal.jpg
Pasokan kedelai untuk Primkopti Harum Weleri sebagai langkah jaminan ketersediaan kedelai bagi pengusaha tempe dan tahu di Kendal. (edi prayitno/kontributor Kendal)

WELERI, AYOSEMARANG.COM -- Dinas Ketahanan Pangan Jawa Tengah memastikan pasokan kedelai untuk perajin tahu dan tempe di Kendal tercukupi dengan harga di bawah pasar. Langkah ini dilakukan sebagai tekat pemerintah dan upaya menstabilkan pasokan dan harga kedelai di Jawa Tengah  secara berkesinambungan. 

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jateng, Agus Wariyanto, melihat langsung di Primkopti Harum Weleri untuk   memastikan pengrajin tahu tempe mendapatkan bahan baku dengan harga dibawah pasar.

AYO BACA :Kedelai Meroket, Pengusaha Tempe Gulung Tikar di Kendal

“Untuk kebutuhan kedelai di Jawa Tengah antara 420.000 sampai 450.000 ton per tahun, namun juga tidak bisa terpenuhi sehingga perlu menggalakkan tanaman kedelai lokal unggulan agar menopang kekurangan. Di Jateng ada 20 kabupaten namun dikelompokkan ada kelompok potensial, andalan dan unggulan unggulan seperti Grobogan,” kata Agus Wariyanto, Sabtu 12 Juni 2021

Agus Waryanto mengatakan, harus ada pola lain yakni dengan memberdayakan Kopti tahu tempe sehingga  ketersedian kedelai selalu ada dan  harga bisa di bawah pasar. Jika harga di pasar saat ini mencapai Rp 11 ribu lebih per kilo  sedangkan melalui Kopti ada selisih harganya antara Rp10.600 sampai Rp10.800 per kilogram. 

AYO BACA :Buatan Asli Semarang, Sepeda Klasik Penny-Farthing Mendunia

“Dengan demikian  perajin tetap bisa produksi dan Kopti selaku penyedia bahannya,” imbuhnya.

Sementara Ketua Primkopti Harum Weleri , Rifai mengatakan untuk kebutuhan kedelai di kabupaten Kendal sekitar 1.000 ton per tahun. Namun tidak bisa terpenuhi 100 %, paling hanya separuhnya.

“Sehingga banyak perajin tahu tempe yang kesulitan menjual produknya karena harga yang naik, namun konsumen tidak memahami kondisi ini,” ujarnya.

Sedangkan bagi perajin tahu dan tempe, dengan kenaikan harga kedelai impor hampir Rp11.000 perkilo membuat para perajin  terpaksa mengurangi ukuran dan jumlah produksi. 

“Ketika harga kedelai masih Rp7.000,  perajin bisa memproduksi tahu maupun tempe hingga satu kwintal. Namun saat  harga kedelai naik terus, banyak yang mengurangi produksi dan  terpaksa mengurangi ukuran tahu maupun tempe,” tutur Muhamad Irfan perajin tahu dari Weleri.

AYO BACA :Pemkab Kendal Tingkatkan Produksi Kedelai Ikuti Arahan Presiden