pembuat-sepeda-penny-farthing-semarang.jpg
Ardyan Dhimas Pratama saat sedang merakit sepeda Penny-Farthing. Setelah bapaknya tiada, Dhimas bertekad memegang tongkat estafet sebagai pembuat sepeda Penny-Farthing. (AYOSEMARANG.COM/ Audrian Firhannusa)

GENUK, AYOSEMARANG.COM -- Berpuluh-puluh tahun, tepatnya di halaman sebuah rumah yang berlokasi di Sedayu Cluster Bangetayu, Genuk, seorang pria yang senantiasa merakit sebuah sepeda klasik Eropa Penny Farthing. Pria itu bernama Daronjin dan jadi satu-satunya perakit sepeda klasik itu di Kota Semarang.

Tangan-tangan terampil Daronjin selalu membuat sepeda Penny-Farthing buatannya laris. Tidak main-main, pelanggannya orang-orang tersohor di negeri ini, sebut saja Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Raja Ubud, dan Wali Kota Bandung saat ini Oded M Danial. Bahkan dia juga melayani sampai luar negeri.

Namun usia kehidupan memang tidak ada yang tahu. Pada 27 Mei 2021 lalu, Daronjin dipanggil yang Maha Kuasa. Praktis Kota Semarang kehilangan salah satu putra terbaiknya yang sering mengharumkan nama Kota Lunpia lewat berbagai karya-karyanya.

Setelah Daronjin meninggal mungkin sempat muncul pertanyaan bagaimana dengan produksi sepeda Penny-Farthing buatannya. Sungguh disayangkan apabila mahakarya putra asli Semarang itu harus mandek.

AYO BACA :Buatan Asli Semarang, Sepeda Klasik Penny-Farthing Mendunia

Namun pertanyaan itu kini terjawab sudah. Produksi sepeda Penny-Farthing tidak akan berhenti karena akan diteruskan oleh anak dari Daronjin yakni Ardyan Dhimas Pratama (17).

Saat ditemui pada Jumat 11 Juni 2021, Dhimas tampak sedang membereskan roda-roda Penny-Farthing di halaman rumahnya. Dia mengaku sudah merakit satu buah sepeda Penny-Farthing dan dikirim ke pemesan.

“Itu pesanan waktu ada bapak. Saya melanjutkan,” ujar Dhimas.

Dhimas mengungkapkan bahwa dia sempat diajari oleh bapaknya. Namun meski demikian dia mengaku belum bisa sepenuhnya menggantikan kinerja bapaknya.

AYO BACA :Pasokan Kedelai di Kendal Tercukupi, Harga di Bawah Pasar

“Belum bisa secepat bapak,” tambahnya.

Sebelumnya Dhimas memang sudah terlibat dalam pengelolaan pembuatan sepeda Penny-Farthing milik Daronjin. Hanya Dimas membantu dari pengelolaan sosial media.

Untuk saat ini, Dhimas mengaku hanya menyelesaikan pesanan sebelum bapaknya meninggal. Dia belum berani membuka lagi karena dia ingin mengasah kemampuannya agar setara bapaknya.

Sekali produksi biasanya sepeda Penny-Farthing ini menghabiskan beberapa bulan. Menurut Dhimas bagian yang paling sulit adalah ketika pemasangan ban ke pelek. 

"Peleknya kan cukup besar ya, jadi bannya harus benar-benar rapat," imbuhnya. 

Dalam satu bulan biasanya dia bisa mendapatkan omzet hingga puluhan juta dari produksi sepeda Penny Farthing. Rata-rata yang membeli sepeda kepada harus bayar DP 50 persen lebih dulu. 

"Dalam satu bulan omzetnya bisa sampai Rp60 juta, " ujarnya.

AYO BACA :Perantau Ambon Ciptakan Produk Unik Manfaatkan Limbah Tekstil