gunawan-witjaksana.jpg
Drs Gunawan Witjaksana M Si/Dosen dan Ketua STIKOM Semarang

AYOSEMARANG.COM-- Di era kebebasan yang dibarengi dengan pesatnya perkembangan teknologi komunikasi, dunia seolah menjadi tanpa batas. Sebagian besar orang seolah ingin menjadi pewarta yang hebat, apakah karena kebetulan mereka menyaksikan peristiwa dan merekam untuk selanjutnya menyebarluaskannya atau sekadar kebetulan memperoleh informasi hasil sharing orang lain, dan tanpa pikir panjang apalagi menyeleksinya, langsung menyebarluaskannya pada berbagai pihak melalui gawai yang dimilikinya.

Mereka ini berpendapat, apa pun boleh mereka publikasikan ke pihak lain. Mereka kurang memahami bahwa dalam UU No.14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik pun, ada beberapa hal yang dikecualikan dan tidak boleh sembarangan dibuka, terlebih terkait etika jurnalistik yang menyebut pentingnya kelayakan publikasi ( fit to expose) terkait dengan informasi.

Celakanya lagi mereka yang ada di lingkungan birokrasi, baik staf, bahkan petingginya tampaknya banyak yang kurang melek informasi serta media pula.

Kita tentu ingat bagaimana hebohnya  draf UU Cipta yang hanya dicuil sebagian kecil dan di publikasikan, sehingga menimbulkan salah makna dan heboh, padahal bila dikaji secara komprehensif dan menyeluruh sehingga jelas arah serta kemanfaatannya.

Demikian pula draf revisi ke lima tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan ( RUUKUP) yang hanya dicuil  menyangkut wacana pajak sembako dan bidang pendidikan, yang sebenarnya bila dibaca secara menyeluruh seperti kata Staf Khusus Menkeu, maknanya bukan seperti yang terekspose dan jadi heboh.

Dari dua contoh kejadian itu, kita pantas merenung sembari bertanya, mengapa banyak pihak saat ini senang dianggap sebagai pewarta hebat, sehingga kurang selektif dalam menyebarluaskan informasi, termasuk ikut beropini melalui media? Apakah mereka beranggapan bahwa keterbukaan informasi itu sama dengan ketelanjangan informasi?

Layak Publikasi

Kita saat ini sering dibuat menjadi heran, mengapa secuil draf sebuah UU sampai bocor? Tidakkah mereka yang terlibat, termasuk yang ditugasi adalah aparat birokrasi yang telah disumpah serta ditatar berbagai hal? Apakah kalau begitu betul sinyalemen adanya penyusup yang sengaja mengacau, padahal saat ini pemerintah sedang berjuang mengatasi Pandemi dengan segala  dampaknya? Mereka inilah yang perlu diusut dan diambil tindakan, meski dengan model senyap.

Yang lebih mengherankan lagi, mengapa ada anggota DPR yang lansung mau menanggapi, padahal hal itu baru berupa draf yang nantinya mesti akan dikaji bersama DPR sebelum disahkan? Karenanya tidaklah mengherankan bahwa kemungkinan itu diharapkan merupakan pemanasan menjelang 2024, namun sayangnya mereka abai pada hal yang menjadi skala prioritas saat ini.

Mungkin mereka kurang faham prinsip komunikasi bahwa kinerja berkata lebih nyaring dibanding wacana.

Sayangnya media pun ikut terbawa. Tidak salah media ikut membahas hal yang menghebohkan itu, namun mestinya all both side lah yang perlu mereka lakukan dan bukan model proof balon, atau yang lebih populer dengan istilah  bad news is good news.

Dampaknya seolah rakyat menjadi resah seperti yang banyak terekspose di media. Padahal, kalau kita menelusur secara acak saja ke tengah masyarakat, mereka tampak tenang- tenang saja, karena bagi mereka yang penting hari ini  yang mereka rasakan.

Karena itu, alangkah indahnya bila semua pihak saai ini bahu membahu mengatasi kesulitan bersama.

Bila ada informasi yang belum jelas dan belum yakin layak siar, sebaiknya saling ditahan dulu. Kita perlu menyadari bahwa informasi yang tidak jelaslah yang justru mudah dipercaya, namun dampaknya jelas sangatlah negatif.

Kita semua perlu memahami, bahwa tidak semua hal boleh disebarluaskan kepada masyarakat, karena pada hakekatnya keterbukaan itu bukanlah ketelanjangan.

Kita tentu ingat kata Westersthall bawa informasi yang obyektif itu adalah yang didukung fakta, relevan dengan kepentingan masyarakat, serta disajikan oleh media secara netral dan berimbang.

Penulis Drs. Gunawan Witjaksana, M.Si, Dosen dan Ketua STIKOM Semarang

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.