toto-tis-suparto.jpg
Toto TIS Suparto, penulis filsafat moral, pengkaji di Institut Askara. (dok)

AYOSEMARANG.COM -- Hari menjelang pagi. Baru saja selesai menonton siaran langsung Euro 2020, tiba-tiba sebuah pesan WhatsApp masuk, "Teman kita dirujuk ke rumah sakit, ia dinyatakan positif Covid". Sungguh, pesan yang menyedihkan. Betapa tidak, sehari sebelum masuk ke rumah sakit, teman itu masih bercanda di grup WA. Tak ada keluhan ia disergap virus.

Belakangan ini kondisi memang tak menentu dan kian susah diprediksi. Malam hadir di hajatan, esoknya isolasi di rumah sakit karena positif corona. Virus corona cepat sekali menular. Konon ini varian dari India. Di Jawa Tengah, misalkan, kita dikejutkan kasus di Kudus, kemudian merambat ke beberapa kota. Di Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono X malah mengancam akan lockdown total bilamana masyarakat tak berdisiplin. Di negeri kita, angka penambahan kasus Covid sangatlah mengkhawatirkan. Data per 19 Jun 2021, 18:04 WIB, kasus positif sudah mencapai 12.906.  Padahal sebelum lebaran lalu masih kisaran 4.000 saja.

Angka itu menghadirkan kecemasan, terutama para penyandang komorbid dan usia lanjut. Kecemasan yang merugikan karena para ahli kesehatan jiwa bilang, perlu diwaspadai bahwa kecemasan berlebihan justru membuat sistem imun menurun. Padahal, untuk mencegah virus diperlukan daya tahan tubuh yang baik. Agar imun terbentuk, buanglah kecemasan dan gantilah dengan kebahagiaan. Kita berusaha bahagia walau pandemi makin menggila.

Mungkinkah kita tetap bahagia saat disergap kecemasan? Tentu saja sulit menggapai kebahagiaan manakala ada kecemasan. Berabad-abad lalu sudah diingatkan oleh filsuf Yunani, begini: "Hanya ada satu cara menuju kebahagiaan dan itu adalah berhenti mencemaskan  hal-hal yang berada di luar kekuatan kita".

Filsuf itu bernama  Epictetus. Ia seorang  filsuf Yunani yang hidup di abad pertama. Ia adalah salah satu penerus filsafat Stoic, di mana aliran ini mengedepankan pandangan hidup yang berfokus pada pengendalian diri dan hidup sesuai alam atau fitrah kita.

Meski berabad-abad lalu disampaikan Epictetus, kenyataannya pemikiran itu  masih relevan dengan kehidupan kita di masa pandemi Covid 19 ini. Ternyata, menurut Epictetus lagi, ada yang salah atas ragam kecemasan itu. "Bukan  peristiwa tertentu yang mecemaskan kita, tapi persepsi kita akan peristiwa tersebut," kata filsuf Yunani itu. Epictetus mau meyakinkan setiap rasa cemas yang kita alami sesungguhnya terbentuk dari cara pandang kita sendiri.

Maka dari itu kita musti ubah cara pandang kita terhadap pandemi. Pertama sekali kita selayaknya menyadari bahwa sebaran virus itu di luar kekuatan kita. Kalau itu di luar kekuatan kita, kata Epictetus, jangan dicemaskan. Bagi kita, yang terpenting adalah menangkal virus agar tidak merasuk ke tubuh lewat cara menerapkan protokol kesehatan.

Hal kedua, setelah berhasil menghilangkan kecemasan, mulailah menggapai kebahagiaan. Tetapi kebahagiaan macam apa? Bukan soal mudah untuk menjawab pertanyaan sederhana, apa sih bahagia? Lalu dikerucutkan lagi, apa kebahagiaan pandemi? Pandangan umum akan menyatakan demikian, kebahagiaan pandemi adalah ketika kita diberi imun tinggi sehingga tidak terpapar Covid 19. Atau, betapa bahagia kita ketika luput dari PHK, sementara saudara-saudara kita hidup dari tabungan karena kehilangan pekerjaan. Itu pun kalau masih punya tabungan.

Merujuk buku babon etika, Nicomachean Ethics, Aristoteles menyatakan acap orang yang sama mengidentifikasi kebahagiaan dengan hal berbeda dalam waktu yang berbeda. Si Fulan, misal, ketika ia sakit maka ia mengira kebahagiaan itu adalah kesehatan. Ketika ia miskin, ia mengira akan berbahagia jika dirinya kaya. 

Tampaknya yang bisa digunakan untuk identifikasi kebahagiaan adalah bilamana hidup kita bernilai dari sudut pandang kita sendiri. Maksudnya, kita sendiri yang menganggap cara hidup kita itu penting dan menarik untuk diri sendiri. Selain menarik bagi kita sendiri, tetapi juga bermakna untuk orang lain. Setidaknya orang lain itu terbantu dengan cara hidup yang kita pilih.

Beberapa teman telah memilih cara hidup selama pandemi dan pilihan itu membuat mereka bahagia. Seorang teman penerjemah buku merasa bahagia ketika memberikan kelas gratis teknik menerjemahkan kepada para editor yang menjadi korban Covid 19. Seorang pegiat literasi mengaku bahagia karena  webinar tentang gerakan literasi diminati banyak orang. Eks chef kapal pesiar bahagia karena bisa menularkan beberapa menu kepada korban korona. Itulah, menurut meraka,  bahagia.
Apa yang bisa kita ambil hikmahnya  dari pilihan hidup mereka? Ketika hidup kita bermakna, maka kita  akan menemukan kebahagiaan. Jelas bahwa kebahagiaan tidak pernah didapatkan sendirian. Kebahagiaan selalu merupakan kebahagiaan lahir ketika kita berelasi dengan orang lain. Kebahagiaan itu harus dibagi bersama tetangga, kolega, sahabat dan orang yang kita cintai. 

Pada akhirnya, bahwa kita bisa menciptakan bahagia. Dan kita pun tak akan merasakan pandemi sebagai masa penuh lara. Kembali ke kalimat Epictetus di muka, marilah kita menciptakan kebahagiaan dengan membuang jauh-jauh kecemasan pandemi. Ayo kita bahagia! 

Penulis: Toto TIS Suparto/penulis filsafat moral, pengkaji di Institut Askara.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.