undip.jpg
Menguji makanan terindikasi boraks dan formalin menggunakan kunyit (dok)

SEMARANG, AYOSEMARANG.COM -- Pandemi Covid-19 telah membuat lumpuh berbagai aspek kehidupan di Indonesia, salah satunya di sektor pendidikan.

Pembelajaran dimasa pandemi dianggap tidak efektif terutama pada satuan pendidikan sekolah dasar.

Masalah utamanya terbatas pada akses sarana dan prasana seperti internet dan gadget.

Mendengar permasalahan tersebut Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim meluncurkan program Kampus Mengajar, yaitu bagian dari kegiatan Merdeka Belajar, Kampus Merdeka yang mana memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menempuh pembelajaran di luar kampus.

AYO BACA :Pemberantasan Pungli dan Truk ODOL Dimulai dari Pelabuhan Tanjung Intan

Pada program ini mahasiswa diterjunkan ke Sekolah Dasar pada daerah 3T untuk membantu pembelajaran di sekolah tersebut selama 3 bulan. 

Pada periode  tahun 2020/2021, Kampus Mengajar meluncurkan Angakatan pertamanya dengan 15.000 mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia baik negeri maupun swasta.

Salah satunya yaitu Gita Devita Anggraeni mahasiswa Program Studi Ilmu Gizi, Universitas Diponegoro  yang diterjunkan di SD Islam Mambaul Maarif Belik, Kabupaten Pemalang.

“Jadi dalam program Kampus mengajar ini saya ditugaskan untuk membantu proses pembelajaran numerasi, literasi, adaptasi teknologi dan juga membantu administrasi sekolah tersebut, sehingga setiap harinya saya berangkat ke sekolah” ujarnya. 

AYO BACA :Kafe Unik Bertema Kereta Api di Seberang Stasiun Tawang Semarang

Kegiatan pembelajaran non mata pelajaran juga diajarkan, salah satunya yang menyangkut bidang yang digeluti oleh Gita, yaitu Gizi, di sini Ia membuat program yang ditujukan untuk kelas 4 dan 5 yaitu membuat eksperimen sederhana untuk menguji sejumlah makanan yang terindikasi mengandung boraks atau formalin menggunakan kunyit.

Sampel makanan yang digunakan yaitu jajanan yang dijajakan di sekitar sekolah. Cara kerja dari eksperimen ini yaitu berdasarkan pada perubahan warna kunyit dari kuning menjadi merah bata apabila sampel yang dicek positif mengandung boraks atau formalin. Setelah melakukan eksperimen, ia juga memberikan edukasi kepada siswa mengenai bahayanya mengonsumsi jajanan sembarang terhadap kesehatan tubuh.

“Saat ini banyak penjual makanan curang, mengahalalkan berbagai cara untuk memperoleh keuntungan tanpa melihat efek berbahaya yang ditimbulkan dari bahan-bahan yang tidak seharusnya dimasukan ke dalam makanan, melihat fenomena ini membuat saya mencetuskan untuk membuat program tersebut, dan menurut saya program ini cocok dilaksanakan di masa pandemi mengingat kita diimbau untuk menjaga imun kita dengan mengonsumsi berbagai makanan yang bergizi” katanya.

Siswa di sana sangat antusias dengan kegiatan ini, Karena dapat melihat dan mempraktikan secara langsung. Guru dan sekolah sangat mendukung adanya kegiatan ini, menurut mereka kegiatan ini dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperingatkan bahaya jajan sembarang di luar.

Menjaga kesehatan tubuh itu mutlak dibutuhkan, terutama pada masa pertumbuhan dan perkembangan anak terutama mendukung perkembangan otak mereka yang mana akan menjadi bekalnya kelak untuk membangun negara Indonesia dengan sumber daya manusia yang berkualitas.

Penulis: Gita Devita Anggraeni mahasiswa Program Studi Ilmu Gizi, Universitas Diponegoro yang diterjunkan di SD Islam Mambaul Maarif Belik, Kabupaten Pemalang.

AYO BACA :Ayo (Tetap) Bahagia Walau Covid-19 Menggila

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.