24ekartunkorona.jpeg
Gambar Kartun: Harapan Selalu Ada di Tengah Virus Korona karya Wahyu Siswanto. (dok: ayosemarang)


Pandemi covid-19 sudah melanda dunia, termasuk Indonesia selama dua tahunan. Di Indonesia, sebenarnya Pandemi ini sudah sempat melandai bahkan sangat menurun. Di Bulan Januari 2021 di mana pemberian vaksin dimulai, kondisinya sudah sangat membaik.

Kedisiplinan masyarakat mengikuti protokol kesehatan( prokes) pun sangat membantu menurunnya penyebaran virus covid-19 ini.
Sayangnya, tradisi mudik Lebaran yang merupakan salah satu budaya masyarakat Indonesia, menjadikan sulit bagi pemerintah untuk melarangnya. 

Meski jumlah pemudik turun drastis, namun jumlahnya masih cukup besar. Ditambah para pekerja migran yang pulang dari luar negeri, dampaknya sudah diprediksi dan sekarang jadi kenyataan, meledaklah jumlah orang yang terpapar.

Ditambah varian baru dengan penularan yang lebih cepat, saat ini pemerintah, masyarakat serta paramedis dibantu para relawan bahkan TNI dan POLRI, tampak harus mengatur strategi, agar fasilitas kesehatan( faskes), tidak kedodoran, meski kenyataan di lapangan menunjukkan bagaimana penuhnya rumah sakit serta tempat- tempat isolasi.

Isolasi mandiri pun jadi salah satu solusi, meski banyak kelemahan, sehingga pemerintah dibantu  pemerintah daerah beserta aparatnya sedang mengusahakan tersedianya tempat- tempat isolasi terpusat.

Sayangnya, upaya keras yang dilakukan berbagai pihak ini masih sering dikacaukan  oleh berbagai info terkait Covid-19 ini,baik menyangkut penanggulangan, penanganan, bahkan terkait vaksinasi.

AYO BACA :Pakar Sebut Penyebaran Informasi Sesat karena Literasi Media Rendah

Berbagai info yang bahkan sering juga disampaikan oleh sebagian intelektual melalui berbagai media, utamanya media sosial ( medsos) yang lebih banyak hanya didasari asumsi, tak urung banyak mempengaruhi masyarakat, sehingga banyak yang akhirnya abai prokes, takut divaksin, serta sikap serta perilaku konyol lainnya.

Media pun utamanya melalui tayangan sinetronnya terkesan sangat abai prokes, bahkan yang juga tidak kalah parahnya tayangan langsung Euro 2021 yang penontonnya tanpa masker serta jaga jarak.
Dampaknya banyak kalangan yang meniru karena merasa sudah aman, padahal keadaan riil menunjukkan sebaliknya. 

Karena itu, hal yang perlu kita renungkan bersama adalah, bagaimana sebaiknya kita menyikapi Pandemi covid-19 dengan dampak riilnya yang terjadi saat ini? 

Sikap Pragmatis namun Hati- hati

Sebagai masyarakat awam, kita kadang- kadang sudah merasa lega ketika ada info tentang obat, baik kimia, herbal, bahkan alat terapi lain yang meski masih terkesan kasuistik dan terbatas, namun dianggap mampu menyembuhkan penderita covid-19.

Yang paling aktual misalnya invermectin 12 mg, yang oleh Menteri BUMN pernah diperkenalkan sebagai obat yang setidaknya bisa membantu meringankan penderita covid-19.

AYO BACA :Keterbukaan dan Ketelanjangan Informasi

Konon di India berhasil menekan meledaknya kasus, oleh Pak Muldoko selaku ketua HKTI juga sudah pernah dikirim ke Kudus dan yang paling aktual pernyataan mantan Bupati Sragen Untung Wiyono di media dan diperkuat seorang Camat dan Lurahnya yang meminumkan obat tersebut sehari sekali selama lima hari, dan penderitanya setelah di PCR negatif.

Meski sifatnya kasuistik, namun sudah semestinya ini perlu dikaji lebih mendalam, yang dalam teori komunikasi pembangunan sering disebut cousious possition.

Namun ada teori lainnya, pragmatic possition, yang sebenarnya selain meneliti, mencoba secara terukur dan berhati- hati keberhasilan wilayah lain yang mungkin juga sekaligus untuk uji klinis, mungkin bisa juga dilakukan, karena toh kondisinya mendadak, dan dua teori komunikasi pembangunan tersebut memiliki prinsip kehati- hatian.

Sayangnya yang banyak terekspose justru penyangkalan- penyangkalan, dan sejenisnya, dan ini yang menyebabkan masyarakat yang semula lega, jadi bingung kembali, termasuk penggunaan herbal  dan alat yang minim efek samping misal air kelapa yang dioplos pakai garam, jeruk nipis dan madu, atau penggunaan Magnit misalnya.

Informasi Informatif dan Praktis
Bagi masyarakat awam yang berfikir praktis dan sederhana, tampaknya mengikuti prokes yang jelas manjur itu yang paling sederhana. Namun, kenyataan panjangnya waktu, tampaknya banyak yang mulai bosan, sehingga kesannya jadi tampak mulai abai.

Kondisi tersebut ditambah simpang siurnya informasi yang mereka terima,  sehingga tidak jarang yang mengesankan sebagian masyarakat yang bandel, padahal sebenarnya bila mereka diberi informasi yang lengkap serta gamblang, tentu tidak akan demikian sikap serta perilakunya.

Karena itu, ke depan sebaiknya semua pihak bahu membahu. Singkirkan ego sektoral dan keinginan untuk tampil paling hebat.

Yang terpenting adalah bagaimana mampu mengatasi dampak Pandemi ini dengan jalan yang paling cepat, sederhana  dan seluruh lapisan masyarakat bisa ikut berpartisipasi dengan riang dan gembira, sehingga hasilnya seperti yang diharapkan bersama.

Penulis: Drs. Gunawan Witjaksana, M.Si, Dosen dan Ketua STIKOM Semarang

AYO BACA :Kesulitan Menyampaikan Informasi di Era Pandemi

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.