jenazah_covid5.jpg
Pemkot Salatiga Gelar Pelatihan Pemulasaraan Jenazah Covid-19 bagi Modin dan BKGS. (dok)

SALATIGA, AYOSEMARANG.COM -- Pemerintah Kota Salatiga menggelar pelatihan pemulasaran Jenazah terpapar Covid-19. Pelatihan dilaksanakan di Pendopo Pakuwon, dengan peserta perwakilan bapak dan ibu modin  se-Salatiga dan Badan Kerjasama Gereja-gereja di Salatiga (BKGS), belum lama ini.

Sekda Kota Salatiga Wuri  Pujiastuti mengatakan, kegiatan pelatihan pemulasaran jenazah covid-19 penting dilakukan sebagai antisipasi agar pihak RSUD Salatiga tidak kewalahan dalam menangani jenazah yang akan dikebumikan.

"Memang ini mendadak karena kemarin di RSUD Salatiga ada kasus meninggal 6 orang pasien, dalam sehari saja agak kewalahan. Memang, harapannya tidak ada lagi yang meninggal karena kasus covid, namun hanya  mengandalkan RSUD tentu tidak mungkin," ujarnya dalam keterangan yang didapat, Rabu 30 Juni 2021.

AYO BACA :Pasar Simo Boyolali Tutup Sepekan, 12 Pedagang Positif Covid-19

Dr Wian Pisia Anggreliana, sebagai narasumber acara menjelaskan, kriteria pasien meninggal dengan protokol Covid-19 adalah, pasien meninggal dalam status suspek covid-19 dengan atau tanpa komorbid yang belum sempat SWAB/RT PCR tetapi sudah ada hasil laboratorium dan hasil rontgen.

Lalu, pasien meninggal dalam probable covid-29 dengan atau tanpa komorbid yang belum sempat SWAB/RT PCR tetapi sudah ada hasil laboratorium dan hasil rontgen pasien DOA (death on arrival) yang memiliki riwayat kontak dengan pasien suspek/probable/konfirmasi, dan pasien yang meninggal dengan status konfirmasi covid-19.

“Selanjutnya urutan pemulasaraan jenazah dengan protokol covid-19 adalah, menutup lubang lubang tubuh dengan kapas yang dibasahi klorin, jeazah dimandikan (disemprot dengan klorin bagi yang tidak boleh dimandikan), jenazah dikafani, dibungkus dengan plastik (kantong jenazah), jenazah dimasukkan ke dalam peti dengan lapisan alumunium voil, peti jenazah dilakukan disinfektan, selanjutnya dimasukkan ke mobil jenazah,” imbuhnya.

AYO BACA :Hadapi Pandemi, Istilah ''Jawa Iku Nggone Rasa'' Bisa Jadi Kekuatan Tersendiri

Sementara itu, Kabid kawasan permukiman Hengky Aryo Alfianto mengungkapkan jika petugas minimal dua orang yang melakukan pemulasaraan, tapi kalau yang meninggal berbadan besar tentu harus menyesuaikan. Sedangkan yang melaksanakan pemakaman bisa 6 orang lebih.

“Yang meninggal di rumah karena isolasi mandiri, kita beri bantuan peti, APD, mori, sabun, cotton bud, shampo, dan non muslim kita tambah bantal dan  guling kecil. Kalau ada di masyarakat yang meninggal karena dimungkinkan covid-19 ajukan bantuan. Tapi Kalau meninggal di RSUD kita menerima sudah rapi dalam peti. satu peti mati kami berikan 10 APD, asumsinya 2 untuk yang memandikan, dan 8 untuk yang menguburkan,” terangnya.

Menjawab beberapa pertanyaan dialog dari peserta, terungkap kecemasan para modin karena risiko terpapar, Kabag Kesra Jumiarto menjelaskan jika pelatihan adalah sifatnya memberikan edukasi, dan untuk pelaksanaan di lapangan masih harus ada skema dan alur yang harus dilakukan.

“Pelatihan ini masih bersifat memberikan informasi terkait pemulasaraan jenazah terpapar Covid-19, selanjutnya menularkan ilmu yang didapatkan, bukan berarti jika terjadi KLB pemerintah mengajukan Modin untuk menangani semua, tidak. Tanggung jawab tetap pada pemerintah. Kegiatan ini juga sebagai antisipasi kejadian RSUD over load," katanya.

"Relawan pemulasaraan jenazah terpapar Covid-19 di Salatiga juga ada dari Banser dan setiap saat akan membantu beserta ambulan disediakan. Namun lonjakan pasien di Kota Salatiga sungguh luar biasa, maka informasi terkait pemulasaraan jenazah terpapar covid perlu kami informasikan kepada masyarakat, utamanya tokoh masyarakat seperti modin,” tambahnya.

AYO BACA :Ganjar Perintahkan Kabupaten Kota yang Masuk Zona Merah Buat RS Darurat