religiusitas-masyarakat-indonesia-mempersulit-pengentasan-pandemi-covid19.jpg
Ilustrasi

AYOSEMARANG.COM -- Menurut data dari covid19.go.id per 29 Juni 2021, jumlah positif Covid-19 di Indonesia sebesar 2.156.465 orang, jumlah sembuh 1.869.606 orang, dan 58.024 orang meninggal dunia. Grafik Covid-19 sendiri mengalami peningkatan signifikan dalam kurun waktu sebulan terakhir.

Sementara itu, dilansir dari data vaksin.kemkes.go.id, jumlah orang yang telah mendapatkan vaksinasi dosis 1 sebesar 28.671.106 orang, dosis vaksinasi 2 sebesar 13.369.395 orang atau baru sebesar 33,33 %. Jumlah ini masih jauh dari target herd imunity atau kekebalan komunal sebesar 70-80 %.

Vaksinasi merupakan bagian integral dari upaya pengentasan Covid-19. Selain vaksinasi, internalisasi protokol kesehatan menjadi poin kunci lainnya. Konkretnya, pandemi Covid-19 akan dapat dientaskan dengan terwujudnya herd imunity melalui vaksinasi serta implementsi secara masif kepatuhan protokol kesehatan.

Substanti protokol kesehatan terdiri atas: menjaga jarak, memakai masker, dan mencuci tangan. Menurut data survei dari Parameter Politik Indonesia yang dirilis pada Februari lalu, tingkat kepatuhan masyarakat Indonesia terhadap protokol kesehatan Covid-19 terbilang masih sangat rendah, yakni sebanyak 54,8 %. Artinya, hanya sebesar 54,8 % masyarakat Indonesia yang mematuhi protokol kesehatan Covid-19.

Rendahnya kepatuhan terhadap protokol kesehatan sendiri disebabkan oleh banyak hal, diantaranya kurangnya edukasi, kejenuhan, hingga faktor religiusitas sempit. Perihal religiusitas menjadi hal menarik. Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. 90 % penduduk Indonesia beragama Islam. Sayangnya, di tengah upaya pengentasan Covid-19, sebagian kaum muslim di Indonesia justru mengkonstruksikan nilai religiusitas dalam posisi yang diametris dengan protokol kesehatan dalam rangka pengentasan Covid-19.

Contohnya, pandangan bahwa di masjid tidak perlu memakai masker karena ini rumah Allah yang pasti aman dari virus Covid-19, pandangan bahwa di saat pandemi Covid-19 kaum muslim harus berbondong-bondong memenuhi masjid, pandangan bahwa meniadakan salat Jum’at karena alasan zona merah Covid-19 adalah jahiliyah dan haram, kemudian masih membludaknya kerumunan di acara-acara seremonial keagamaan khususnya di kampung-kampung. Hal tersebutlah yang menyebabkan terciptanya klaster-klaster penyebaran Covid-19.

Jadi, religiusitas kaum muslim merupakan antitesis dari pengentasan pandemi Covid-19? Jawabannya bisa iya, bisa tidak. Iya, jika makna religiusitas sekadar diletakkan dalam arti yang sempit dan literal tanpa melihat kontekstual. Tidak, jika religiusitas dimaknai secara luas dan dalam dengan melihat konteks. Menurut Jalaluddin (2001), religiusitas merupakan suatu keadaan yang ada dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk bertingkah laku sesuai dengan kadar ketaatannya.

Ketaatan seorang muslim adalah bagaimana mematuhi kitab suci (Al Qur’an dan Hadist) serta ijtihad ulama. Maka dari itu, memahami kitab suci dan ijtihad ulama secara cerdas menjadi sangat penting. Karena, pemahaman yang dangkal kemudian tersusupi oleh fanatisme sempit akan melahirkan sikap-sikap yang antitesis dengan dinamika sosial. Dalam sumber primer hukum Islam dan ijtihad ulama sebenarnya telah terkandung prinsip-prinsip yang komptibel dengan upaya pengentasan pandemi Covid-19.

Misalnya terkait perintah Nabi Muhammad untuk menjauhi tempat yang ada wabah penyakit (HR Muslim dan Ahmad). Kemudian, ijtihad ulama terkait peniadaan salat Jum’at di tempat zona merah Covid-19 yang mana telah sesuai syariat Islam, kemudian salat memakai masker di saat ada wabah penyakit berdasarkan syariat adalah sah hukumnya.

Maka dari itu, religiusitas sendiri seyogyanya jangan diletakkan secara sempit, hanya sekadar simbolistis peribadahan pada satu tempat wajib. Religiusitas harus diletakkan dalam arti yang dalam dengan memperhatikan konteks serta syariat Islam secara komprehensif. Dengan demikian, di tengah Pandemi Covid-19, ekspresi religiusitas tidak akan menjadi antitesis dalam upaya pengentasan Covid-19.

Penulis: Pradikta Andi Alvat SH MH

 

 

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.