s__48111730.jpg
Bolang-baling Jumbo Gang Lombok jadi kuliner legendaris di Kota Semarang. Ukurannya spesial dan sudah ada sejak tahun 50-an. (Ayosemarang.com/ Audrian Firhannusa)

SEMARANGTENGAH, AYOSEMARANG.COM - Bagi sebagian orang, kuliner Bolang-baling mungkin masih asing.

Hal itu dikarenakan banyak sebutan bagi kue Bolang-baling tergantung di mana daerah tersebut.

Beberapa waktu lalu, Bolang-baling menjadi viral karena ada promosi unik dari Ade Londok saat mereview Odading.

Odading sebenarnya adalah nama lain dari Bolang-baling yang dikenal warga Kota Semarang.

Di Banyumas, Bolang-baling biasa disebut dengan “Galundeng”. Sedangkan di Solo disebut dengan “Gembukan”, sementara di Jakarta disebut dengan “kue bantal”.

Bolang-baling ini biasa dihadirkan setiap pagi. Sebab bentuknya yang tebal mungkin bisa jadi alasan bahwa makanan ini bisa sebagai pengganjal perut atau untuk sarapan.

Meskipun tampaknya seperti kue yang sederhana, namun di Indonesia bolang-baling punya sejarah yang panjang.

Di Kota Semarang misalnya, ada satu pedagang yang sudah beregenerasi membuat bolang-baling, namanya adalah “Bolang-Baling Jumbo Gang Lombok”.

AYO BACA : Usaha Rumah Arwah, Turun Temurun Pembuat Tempat Tinggal Roh di Alam Baka

Sejak Tahun 50-an

Sesuai namanya, bolang-baling ini lokasinya berada di Gang Lombok kawasan Pecinan. Di Pecinan itu pula, pembuat bolang-baling ini sudah berdagang sejak tahun 50-an.

“Dulu lokasinya nggak di sini. Pindah-pindah. Cuma ya tetep aja di Pecinan,” ujar Lusi sang pemilik.

Sebagai penerus, Lusi mengaku saat ini masuk sebagai generasi ketiga. Awalnya resep membuat bolang-baling ini berasal dari neneknya yang membawa dari tanah kelahirannya di Cina.

“Setelah berimigrasi ke Semarang, nenek jualan bolang-baling ini. Bolang-baling pertama yang ada di Semarang,” kata Lusi sambil mengaduk adonan bolang-baling.

Meskipun Jumbo tapi Tidak Kopong 

Untuk adonan yang digunakan untuk membuat bolang-baling ini memang tidak jauh beda dari bolang-baling pada umumnya. Hanya seperti nama yang dituturkan, bolang-baling Gang Lombok ini spesial, yakni pada ukurannya yang jumbo.

Lusi menuturkan jika adonan yang dibuat oleh bolang-baling ini lebih banyak. Selain itu sejak awal, ukuran bolang-baling ini tetap tidak diubah sedikitpun. Lusi tidak mau mengubah tradisi keluarga.

AYO BACA : Sanggar Walesan di Layur, Terkesan Kuno tapi Jadi Rujukan Pemancing Kota Semarang

Selain itu meskipun ukuran jumbo, namun Lusi mengungkapkan jika teksturnya pun tetap padat. Isi dalamnya tidak kopong atau besar dari bentuk luarnya saja.

“Wijen dan gulanya juga menyesuaikan. Jadi manisnya terasa,” terang Lusi.

Di tempat ini tidak hanya bolang-baling saja yang dijual, namun ada cakwe dan untir-untir yang disebut sebagai kue tambang dan juga onde-onde. Lalu sebagaimana bolang-baling, cakwe dan onde-onde juga dijual dengan ukuran yang besar.

“Bolang-baling di sini dihargai Rp7.000 sedangkan untir-untir Rp10.000,” jelas Lusi.

Bolang-baling Peterongan

Sebetulnya untuk bolang-baling legendaris di Kota Semarang tidak hanya di Gang Lombok saja. Namun juga ada di Wonodri Krajan III Semarang.

Nama dari bolang-baling ini adalah “Bolang-Baling Peterongan”. Pemiliknya bernama Widyo Subodo. Untuk bolang-baling ini sudah dirintis sejak tahun 1973.

Berbeda dengan Gang Lombok, bolang-baling Peterongan tidak menggunakan wijen. Kata Widyo, bolang-baling yang asli tidak menggunakan gula dan wijen.

“Saya ingin menunjukan bolang-baling yang asli kepada masyarakat. Harusnya bolang-baling itu ya seperti ini,” ucapnya.

Widyo bahkan sudah pernah memecahkan rekor muri untuk pembuatan cakwe terpanjang seukuran 10.10 meter pada 2004. Harga bolang-baling Widyo dibanderol Rp2.500 sementara untuk yang agak besar dihargai Rp3.000.

AYO BACA : Konotasi Kata dalam Bahasa Semarangan Tak Selalu Bermakna Negatif