jamal_wiwoho.jpg
Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof Jamal Wiwoho saat menerima vaksin. Prof Jamal meminta pemerintah untuk melakukan mitigasi pandemi Covid-19 berbais komunitas. (dok Humas UNS)

SOLO, AYOSEMARANG.COM – Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof Jamal Wiwoho mendorong pemerintah agar melakukan mitigasi pandemi Covid-19 berbasis komunitas atau masyarakat.

Pernyataan Jamal Wiwoho tersebut menilai kondisi Indonesia saat ini sangat memprihatinkan di tengah pandemi.

Jamal Wiwoho yang juga Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) menginginkan pemerintah agar segera melakukan mitigasi pandemi Covid-19 berbasis komunitas atau masyarakat.

Hal itu disampaikan Prof Jamal dalam Seri Dialog Kebangsaan bertajuk “Kolaborasi Memperkuat Kapasitas Masyarakat Menghadapi Pandemi Global Covid-19: dari Bantuan Sosial hingga Tenaga Kesehatan” yang digelar melalui Zoom Cloud Meeting, Jumat 16 Juli 2021, malam.

Berdasarkan data, angka pertambahan kasus Covid-19 di Indonesia terus bertambah, bahkan semakin parah. Di Minggu ini saja, Indonesia setiap harinya selalu mengalami lonjakan kasus Covid-19 di atas 40.000 orang.

Hal ini membuat Indonesia bertengger sebagai negara dengan angka pertambahan kasus Covid-19 harian tertinggi di dunia, menyaingi Brasil dan India yang masing-masing secara keseluruhan sudah mencatatkan 19,3 juta kasus dan 31 juta kasus sejak pandemi Covid-19 melanda dunia.

AYO BACA :Bantu Penanganan Pasien Covid-19, FT UNS Produksi Nasal Cannula

Jamal Wiwoho mengatakan, pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak tanggal 2 Maret 2020, mengakibatkan beban anggaran negara semakin berat. Hal itu disebabkan oleh lumpuhnya berbagai sektor perekonomian dan negara harus memberikan perlindungan kesejahteraan bagi masyarakat yang membutuhkan.

“Menkeu Sri Mulyani mengatakan negata telah melakukan refocusing anggaran yang digelontorkan untuk penanganan Covid-19 telah mencapai Rp150 tiriliun lebih. Belum termasuk toleransi defisit anggaran dan melemahnya produktivitas ekonomi nasional,” ujar Jamal melalui keterangan resmi yang diterima Ayosemarang, Sabtu 17 Juli 2021.

Ia menyampaikan, dengan beban anggaran negara yang semakin berat, menuntut pemerintah untuk membuka diri terhadap partisipasi dari seluruh pemangku kepentingan agar bersama-sama melakukan upaya pencegahan dan penanganan Covid-19.

“Prinsip community based management yang disandingkan dengan peranan negara dapat secara maksimal akan meningkatkan ketahanan masyarakat menghadapi pandemi,” ucapnya.

Dua Potensi Indonesia

Dalam kesempatan tersebut, Jamal menerangkan dua potensi/ kekuatan besar yang dimiliki Indonesia untuk menanggulangi pandemi Covid-19, yaitu kekuatan nilai-budaya dan organ kelembagaan masyarakat.

AYO BACA :Bantu Penanganan Pasien Covid-19, FT UNS Produksi Nasal Cannula

Pertama, soal kekuatan nilai-budaya, Prof. Jamal mengutarakan berdasar data yang dirilis CAF World Giving Index 2021, Indonesia mendapatkan predikat sebagai negara paling dermawan di dunia.

Predikat negara paling dermawan, disebut Jamal, dapat dilihat dari sikap gotong royong yang dilakukan masyarakat untuk menolong orang-orang yang membutuhkan selama pandemi Covid-19.

“Di saat pemerintah memikirkan kebijakan bantuan sosial dan penanganan pandemi, masyarakat sudah bergerak terlebih dahulu untuk memberikan bantuan,” tutur Jamal.

Hal kedua yang disampaikannya adalah soal organ kelembagaan masyarakat Indonesia. Dalam hal ini, Jamal mengapresiasi program "Jogo Tonggo" yang diinisiasi Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo dan program Desa Siaga yang diinisiasi Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil

Jamal mengemukakan, dua program tersebut dapat semakin memupuk rasa solidaritas masyarakat agar mampu melewati sekat-sekat yang ada dan dapat menjadi harapan dan kekuatan baru dalam menghadapi pandemi Covid-19.

“Sekaligus menegaskan bahwa kebersamaan dan budaya gotong royong masih hidup di masyarakat kita dan sentuhan kemanusiaan melalui solidaritas sangat dibutuhkan oleh pasien,” sambungnya.

Untuk itu, Jamal menilai negara juga harus hadir untuk menyatukan titik-titik aksi solidaritas masyarakat agar dapat bersama-sama menjadi “amunisi” yang tangguh.

“Kita juga harus memberikan semangat solidaritas yang mengandung makna bahwa banyak orang yang peduli kepada pasien dan mereka tidak sendirian, serta mencintai mereka. Dan hal ini akan membangkitkan semangat hidup dan optimisme yang meningkatkan imunitas tubuh untuk melawan virus,”pungkasnya.

AYO BACA :11 Obat Covid-19 Mulai Langka di Jateng, Ini Daftarnya