pedagang-tusuk-sate-dan-arang-kendal.jpeg
Seorang pedagang yang menyediakan tusuk sate dan arang di Pasar Kendal mengeluh sepi permintaan. (edi prayitno/kontributor Kendal)

KENDAL, AYOSEMARANG.COM -- Iduladha biasanya menjadi berkah bagi pedagang tusuk sate dan arang, namun tahun ini justru kebalikannya. Pedagang di sejumlah pasar tradisional Kendal pasrah ketika dagangan tusuk sate dan arang sepi pembeli.

Bahkan, persediaan dagangan masih cukup banyak di beberapa penjual. Seperti yang dialami Wartiyah, pedagang tusuk sate dan arang di Pasar Tradisional Kota Kendal. Wartiyah mengatakan, stok perlengkapan untuk membakar sate masih banyak.

Dari total 100 ikat tusuk sate dan 50 plastik arang, ia baru bisa menjual sebagian kecilnya. Padahal, Wartiyah sudah berjualan lebih awal beberapa hari dari biasanya.

Jualannya (arang dan tusuk sate,red) sudah beberapa hari lalu, sudah 10 hari. Tapi ya gini tetap aja sepi, ada yang beli paling sedikit-sedikit. Arangnya baru laku 10 bungkus, tusuk satenya gak ada 10 ikat, alat bakarannya baru laku 2 yang kecil, jelasnya Senin 19 Juli 2021.

Wartiyah menyadari jika permintaan tusuk sate dan arang tahun ini menurun 40%-50% di banding Iduladha 2020 lalu. Akan tetapi, ia tidak mengetahui pasti apa saja yang menjadi penyebabnya.

Mungkin karena yang kurban sedikit, bisa juga karena ekonomi, jadi lebih pilih beli yang bisa dimakan sehari-hari. Kalau kenaikan harga sepertinya tidak, naiknya cuma Rp500 - Rp1.000 saja, ujarnya.

Wartiyah yang juga sebagai penjual perabot rumahtangga itu melanjutkan, stok arangnya diambil dari Kota Semarang. Pada tahun ini, ia hanya berani menyetok 1 karung arang saja agar nantinya tidak tersisa banyak. Sementara tusuk sate diambil dari masyarakat Kendal.

Satu ikat tusuk sate isi 200 tusuk dibandrol Rp8.000, satu plastik arang dibandrol Rp3.000, dan satu alat bakaran dibandrol Rp13.000 - Rp17.000. Harga tersebut rata-rata naik Rp500 - Rp1.000 per ikat/bungkus.

Untuk menarik calon pembeli, Wartiyah membagi 1 ikat tusuk sate isi 200 tusuk menjadi 4 ikat. Satu ikatnya berisi 50 tusuk dengan harga Rp2.500.

Tahun lalu, dalam sehari bisa menjual 50 ikat tusuk sate dalam satu hari, ya saat 3 hari menjelang Lebaran Kurban. Tahun ini boro-boro bisa sama, sehari bisa jual 20-30 ikat saja sudah bagus, imbuhnya.

Di sisi lain, sejumlah sayur-sayuran mengalami kenaikan harga jelang Hari Raya Iduladha. Kenaikan dipicu karena stok bahan yang tidak terlalu banyak dan momentum Hari Raya Kurban.

Pedagang sayuran di Pasar Kota Kendal, Jumanah mengatakan, beberapa jenis sayuran mengalami kenaikan Rp5.000 - Rp7.000 perkilonya.

Seperti contoh, harga 1 kilogram tomat kini dibandrol Rp22.000 dari harga normalnya Rp15.000. Kenaikan juga terjadi pada daun slada dari Rp13.000 menjadi Rp20.000 per kilogram dan cabai rawit merah dari Rp40.000 menjadi Rp46.000 perkilogram.